me and my big boss
Aku ingin bercerita, bercerita tentang seseorang yang tak kan ku
sebutkan namanya di sepanjang tulisan ini. Seseorang itu ada di hidupku, ada di
mimpiku, dan ada dalam gulungan perasaanku. Dia temanku. Oh, bukan.. Dia lebih
dari sekedar teman bagiku. Ah, terlalu berbasa-basi. Baiklah, kuakui,, dia
pacarku. Aish,, barangkali juga bukan. Tapi begitulah, antara aku dan dia ada
suatu hubungan yang hanya bisa dimengerti oleh kami berdua.
Aku tidak ingat kapan pertama kali melihat wajahnya. Mungkin
semenjak enam tahun yang lalu, atau mungkin jauh lebih lama dari itu. Tapi, aku
tidak pernah bisa untuk mengenalnya, bahkan sampai detik ini dan bahkan sampai
beberapa waktu ke depan yang tidak bisa juga ku perkirakan. Dia sulit untuk
dikenali. Sangat sulit untuk dipahami. Tetapi dia yang piawai dalam hal
mengenali dan memahami.
Dia biasa-biasa saja. Hmmm, lebih beberapa tingkat dari kata
biasa. Ya, ya, ya,, dia tampan, seandainya saja hidungnya lebih panjang dari
sekarang. Kulitnya putih, badannya bagus, cukup tinggi dan tegap, matanya
indah, alismatanya tebal, rambutnya sedikit ikal dan sedikit pirang, selalu
tampil rapi dan tidak pernah hadir dalam wujud berantakan. Menurutku, dia tidak
merusak mata jika dipandang.
Dia pendiam. Mungkin bukan pendiam, tapi pemalu. Mungkin juga
bukan pemalu, tapi entahlah, aku tidak mengerti. Yang jelas, sepanjang
pengamatanku, dia begitu irit dalam berkata-kata, enggan bermasalah, dan suka
berdiam diri ditempatnya untuk mengamati apa saja atau hanya untuk duduk saja.
Tapi dia adalah pendengar yang baik, dia selalu mendengarkan ceritaku,
terkadang ikutan tertawa jika ada yang lucu, dan terkadang juga kesal jika ada
yang ia tidak suka. Dia tidak bisa mengekspresikan perasaannya, tidak bisa
mengungkapkan rasa suka maupun tidak suka. Jika dia suka sesuatu, dia diam.
Jika tidak suka sesuatu, dia juga diam. Bagaimana aku bisa membedakannya.
Aku ingat tanggal itu, Rabu, 19 Oktober 2016, sekitar jam
sembilan pagi. Tanggal jadianku? Bukan..
Tanggal itu adalah tanggal dimana cerita ini bermula. Jadi
ceritanya, saat itu tengah berlangsung diskusi dalam mata pelajaran
keterampilan. Iseng-iseng ku pandangi dia. Dia salah tingkah. Semakin suka aku
menggodanya. Lalu, ia berikan lambang cinta padaku secara simbolis melewati
jemarinya. Aku terkejut, sama sekali tak menduga. Tanpa kendali, jantungku
berdebar-debar tanpa henti. Bukan.. Pasti bukan karena jatuh cinta. Harap
maklumi saja, siapa juga yang tidak mati gaya saat seorang cowok tampan pendiam
bertingkah seperti itu. Dengan faktor iseng lagi, ku goda dia, ku katakan pada
teman-temanku bahwa dia melakukan itu padaku. Bayangkan saja bagaimana
ekspresinya, wajahnya memerah, merah sekali. Lalu mati-matian ia berusaha
menjelaskan padaku bahwa maksudnya tadi itu Cuma bercanda. Aku pura-pura tidak
menerima. Sungguh, hanya pura-pura saja. Mengertilah, tidak mungkin aku jatuh
cinta padanya, dia sama sekali bukan tipeku.
Katanya Cuma bercanda, tapi setelah kejadian itu ia seperti
salah tingkah sendiri setiap berada di dekatku. Aku jadi yakin, bahwa yang
dilakukannya itu sama sekali bukan bercanda. Mungkin juga karena tidak
disadarinya. Bahasa simplenya, spontan barangkali. Sikapnya jadi berubah
padaku. Dia jadi sering curi-curi pandang padaku dan senyum-senyum sendiri saat
ku pandang balik. Asli, saat itu aku pengen ketawa. Sekarang juga. Padahal aku
sama sekali tidak terpengaruh dengan tingkahnya itu. Dan aku sungguhan
pura-pura, tidak lain hanya untuk menggodanya saja. Namun, dia ternyata punya
jurus hebat yang pada akhirnya bisa membuatku tak hanya sekedar pura-pura.
Okay, ku akui dia hebat...
Dan akan kuceritakan bagaimana kehebatannya itu.
Aku tak menyangka bahwa dia akan berani mengajakku bicara berdua
di siang itu, hari jumat, setelah sholat jumat, sebelum masuk pelajaran
tambahan biologi. Aku masih ingat, tempatnya adalah di meja piket, di depan
kantor majelis guru. Dan aku juga masih ingat, bagaimana teman-temanku
menertawakan aku dan dia saat itu. Dia bilang apa? Apa ya? Tunggu sebentar,
biar kuingat-ingat dulu. Hmmm, intinya dia bilang padaku, bahwa kelakuanku yang
menggodanya akhir-akhir ini sudah membuatnya sering terfikirkan tentangku.
Katanya, ia jadi sering terbayang-bayang diriku saat hendak tidur. Ah, gombal
sekali. Tapi ia mengatakan itu dengan teramat jujur. Aku jadi tidak punya daya
untuk tertawa saat itu, yang ada aku jadi terpana dengan pengakuannya. Dia juga
mohon padaku, jangan bertingkah seperti itu lagi, katanya aku benar-benar
membuat hidupnya jadi tidak karuan. Baiklah, kuturuti permintaannya itu. Tidak
akan kugoda lagi dia.
Tapi apa yang terjadi?
Ia justru semakin mendekatiku. Ia semakin sering
memandang-mandangku. Ia seperti mencari-cari cara untuk bisa bicara denganku,
minimal menegur. Ha-ha-ha. Dia pasti sudah jatuh cinta padaku, terperangkap dan
tidak bisa mengelak. Tapi sebenarnya, aku hanya bisa menertawakan hal itu saat
ini. Saat peristiwa itu berlangsung, aku juga gugup saat ia mendekatiku. Aneh
saja rasanya. Aku tidak pernah didekati laki-laki dengan tipe seperti itu dan
dengan cara yang seperti itu. Semenjak saat itu, aku menjadi dekat dengannya.
Dekat seperti apa? Hmmm,, dekat selayaknya orang yang tengah PDKT. Ya,
begitulah,, pahami saja.
Aku ini cewek agresif, suka bicara. Berbanding terbalik dengan
kepribadiannya. Saat aku tau dia suka padaku, ku ceritakan pada semua orang
tentang hal itu. Dan kutunjukan pada semua orang bahwa aku memang tengah dekat
dengannya. Dan karena hal itu, banyak orang-orang yang berfikiran aneh-aneh
tentang aku dan dia. Sebagian besar beranggapan, aku yang tergila-gila padanya,
sementara ia tidak. Ada juga yang beranggapan aku tengah memberi harapan palsu
padanya, sementara ia terlalu polos untuk itu. Ada juga yang beranggapan, dia
mencintaiku, dan aku hanya mempermainkannya. Penggemarnya justru beranggapan
bahwa aku menggilainya, sementara ia benar-benar terganggu dengan keberadaanku.
Tak ada satupun anggapan itu yang benar. Yang ada, semua anggapan itu sama-sama
membuat telingaku panas setiap kali mendengarnya. Bagaimana tidak, kenyataannya
kan dia yang duluan jatuh cinta padaku, mungkin dia yang lebih mencintaiku.
Tapi aku tidak mempermainkannya. Sama sekali tidak. Meski kubilang awalnya
pura-pura, tapi pada akhirnya aku benar-benar merasa nyaman dengannya.
Terserahlah, apakah saat itu aku bisa dikatakan jatuh cinta atau tidak. Yang
pasti, aku sama sekali tidak punya niat untuk sekedar mempermainkannya.
Guru-guruku mendukung saat mengetahui aku dekat dengannya.
Katanya, tipe seperti dia itu adalah tipe laki-laki yang setia dan baik. Ada
juga guruku yang bilang, jangan sia-siakan dia karena lelaki seperti dia
teramat langka di bumi ini. Bahkan ada juga guruku yang mengatakan bahwa lelaki
seperti dia itu adalah laki-laki yang akan sukses di masa yang akan datang. Aku
sungguh senang mendengar komentar-komentar seperti itu. Hatiku terasa melambung
tinggi. Dan aku jadi berfikir 1001 kali bila akan meninggalkannya. Ibuku juga
bilang, bahwa dia laki-laki yang baik. Ibuku tidak masalah jika aku dekat
dengannya. Dan aku sendiri juga masih tidak percaya bahwa aku berani
menceritakan tentang dia ke ibuku. Aku juga semakin tidak percaya saat ibuku
restu-restu saja saat tau aku dekat dengannya. Padahal ibuku itu termasuk ibu
yang tidak suka melihat anaknya berhubungan spesial dengan laki-laki dan
melarang anaknya pacaran sampai waktunya tepat. Tapi saat kuceritakan tentang
dia, ibuku okay-okay aja. Malahan ibu sering bertanya bagaimana hubungan aku
dengan si dia. Ya, kuceritakan saja apa adanya. Aku kan juga termasuk tipe
orang yang terbuka pada siapapun.
Aku pernah menangis karenanya, tak hanya sekali. Aku juga tidak
ingat berapa kali, mungkin tiga kali atau lebih.
Yang pertama itu aku menangis karena ia tidak mengakuiku kepada
mantan gebetannya. Jadi ceritanya, waktu itu mantan gebetannya melihat langsung
saat aku mengatakan pada seorang guruku bahwa dia mencintaiku sembari bercanda.
Lalu si mantan gebetan bertanya pada si dia, apakah kami sudah jadian atau
belum. Dan dia mengatakan tidak. Aku jadi curiga, jangan-jangan cewek itu
sebenarnya suka pada pacarku ini, tapi mengapa dahulu tidak diterima, dan
mengapa sekarang ikut campur saat ia beralih padaku? Aku sebenarnya kesal
mendengar pengakuannya itu, tapi masih bisalah untuk kuterima. Dan si mantan
gebetan juga bertanya, apakah si dia suka padaku. Dan dia juga mengatakan tidak.
Saat mendengar hal itu aku benar-benar marah dan menangis. Tentu saja aku kesal
dan sedih. Ia tidak mengakuiku pada orang lain, apalagi pada mantan gebetannya
sendiri. Katanya, dia tidak enak saja jika harus mengatakan hal itu. Dan dia
juga tidak suka mengumbar-ngumbar perasaannya. Biarlah orang lain yang
mengetahuinya sendiri. Begitu penjelasannya. Tapi tetap saja tidak bisa
kuterima, jika dia tidak mengakuiku berarti dia tidak menghargaiku. Orang-orang
akan terus mengatakan bahwa hanya aku yang menggilainya, sementara ia tidak. Ia
susah payah menahan tawa saat melihat aku menangis. Katanya, karena aku
menangis, dia jadi tau bahwa aku benar-benar suka padanya dan tidak sekedar
main-main seperti anggapan orang-orang. Ia menggenggam tanganku erat-erat,
selalu begitu. Setiap aku menangis di hadapannya, ia selalu menggenggam
tanganku erat-erat. Entah apa maksudnya. Mungkin untuk membujukku agar berhenti
menangis, atau Cuma sekedar cari kesempatan. Tapi semenjak aku menangis di hari
itu, ia tidak pernah lagi mengingkariku pada siapapun. Saat ada yang bertanya
tentang aku, ia akan jujur mengatakan bahwa ia menyukaiku dan kami memiliki
hubungan dekat. Dan jika situasinya tidak memungkinkan, dia hanya diam saja.
Pernah ada seseorang yang menyukainya dan ia menanyakan tentang hubungan kami.
Cewek itu sangat tidak suka padaku. Dan aku juga. Tapi dia berani mengatakan
pada cewek itu bahwa dia menyukaiku, dan hal itu benar-benar membuatku senang.
Bahkan saat ibunya bertanya apakah aku pacarnya atau bukan, dia juga tidak
menjawab tidak, tetapi hanya diam saja.
Yang kedua, aku menangis karenanya gara-gara ia nembak cewek
lain di hadapanku. Ku tau saat itu dia Cuma bercanda. Semua orang yang
menyaksikan hal itu juga tau bahwa hal itu Cuma main-main. Tapi entah mengapa
aku menangis saat melihatnya. Aku menangis sembari terisak. Seolah-olah hal itu
sungguhan. Mungkin alasanku menangis saat itu juga karena ia tidak pernah
mengatakan hal itu padaku. Entahlah, aku juga geli sendiri jika mengingat
kembali kejadian itu. Tak ku sangka aku selebay itu.
Yang ketiga dan seterusnya, tidak usah jugalah ku ceritakan
semuanya. Kalau tidak salah aku juga sempat menangis saat mengatakan padanya
bahwa kita tidak usah berhubungan lagi. Aku juga tidak ingat karena masalah
apa. Yang jelas aku pernah mengatakan itu. Tapi tidak sungguhan terjadi. Karena
ia selalu punya cara untuk membuatku tidak bisa meninggalkannya.
Aku sering kesal karenanya. Ia sangat memegang teguh prinsipnya,
bertindak sesuai kata-katanya. Jika ia bilang tidak, maka itu artinya tidak.
Tidak akan pernah jadi iya meskipun telah kubujuk berkali-kali dengan jurus
apapun. Sebenarnya itu sifat yang bagus, karena itu artinya ia memiliki
pendirian yang kuat. Tapi aku sering kesal sendiri karena hal itu.
Kapan kami jadian?
Tidak tau kapan. Bahkan aku juga tidak tau apakah hubungan ini
namanya pacaran atau bukan. Yang pasti, aku pernah bertanya padanya tentang
kejelasan hubungan kami. Ku tanya juga kapan ia akan menembakku untuk jadi
pacarnya. Ya, aku memang cewek agresif. Lalu dia bertanya balik, apakah pacaran
itu harus dimulai dengan proses menyatakan? Ku jawab saja tidak harus. Lalu dia
berkata lagi, ya sudah, untuk apa menanyakan soal hal itu lagi. Aku tersenyum
saat dia bilang begitu, karena saat itu aku mengartikan bahwa dia memang
menganggap bahwa aku adalah pacarnya. Entahlah, apa benar atau tidak, yang
jelas hubungan ini sudah kujalani bahkan sudah lebih setahun saat aku menulis
tulisan ini.
Setelah tamat SMA, kami LDR-an, karena beda kampus. LDR-an
dengannya tidak terlalu rumit. Bahkan bisa dikatakan mulus-mulus saja. Ia tidak
pernah memperdebatkan apakah aku dekat dengan cowok lain atau tidak, karena dia
memang bukan tipe cowok yang pencemburu. Malahan aku yang sering bertanya, apa
ada cewek yang ia suka di kampus barunya? Dan ia selalu menjawab tidak setiap
kali ku tanya begitu. Terkadang dia juga berkata, apa aku tidak bosan
menanyakan hal itu. sebenarnya aku percaya bahwa ia tidak akan mengkhianatiku.
Mungkin aku yang lebih berpeluang untuk mengkhianatinya. Tapi aku bukan
perempuan yang seperti itu. Meski perasaanku padanya tidak sebesar perasaannya
padaku, aku sangat menjaga hubungan ini. Aku sangat menjaga hatiku. Apapun yang
terjadi padaku, ku ceritakan padanya. Bahkan saat aku bertemu dengan cinta
lamaku, juga ku ceritakan padanya. Mungkin hatinya sedikit panas saat mendengar
ceritaku itu, tapi ia tidak marah. Ia percaya padaku. Dan ia memahamiku. Tidak
mungkin aku mengkhianatinya.
Tapi aku sering merasa bosan saat berdialog dengannya. Apalagi
lewat chatting. Sangat membosankan.
Terkadang perkataanku yang panjang hanya dibalas dengan satu atau dua kata
olehnya. Topik yang kami bicarakan pun tidak pernah berkembang. Barangkali Cuma
aku yang sibuk menceritakan hal-hal yang kualami, dan aku yang banyak bertanya
tentang ini-itu. Dia orangnya pasif sekali, sangat pasif.
Meskipun demikian, aku telah bersamanya selama lebih dari satu
tahun. Dapat dibayangkan, tentu ada yang membuatku bertahan selama itu. Aku
sering mengikutsertakannya dalam angan-anganku. Ia selalu kubayangkan untuk ada
di masa depanku. Aku tidak tau, apakah ia sungguhan benar-benar akan menjadi
bagian dari masa depanku. Untuk saat ini, aku menikmati saja teka-teki yang
Tuhan beri. Dan kalaupun seandainya aku tidak ditakdirkan bersamanya, aku hanya
berharap semoga kami bisa jalan sendiri-sendiri tanpa ada rasa benci. Apapun
itu, ia tetap berarti bagiku.
Itulah ceritaku, tentang dia yang tidak kusebutkan namanya di
sepanjang tulisan ini. Nanti kalau aku dapat ilham lagi, akan ku sambung lagi
cerita tentangnya. Untuk sekarang, cukup sampai disini dulu.
***
Komentar
Posting Komentar