cerpen cinta (Ketika Mega Ketemu Fajar)
Ketika
Mega Ketemu Fajar
Oleh:
Vira Nilmania
Embun baru saja meninggalkan dedaunan dan rerumputan. Ia
terusir oleh sang mentari yang datang menyapa bumi dengan gagahnya. Kebisingan
segera dimulai. Di jalanan, suara deru mesin kendaraan saling berpacu mengejar
waktu. Jendela-jendela rumah pun mulai terbuka. Satu per satu anak-anak manusia
meninggalkan kediamannya. Dua orang anak muda tampak keluar dari gang kecil.
Keduanya sama-sama mengenakan celana jeans dan baju kemeja motif kotak2 bahkan
sepatu kets merek serupa. Langkah keduanya tampak tergesa-gesa, dan keduanya
saling berusaha untuk mendahului persis seperti lomba lari. Mereka tak saling
bicara hingga kedua sosok itu tak sengaja bertabrakan di pintu kelas.
“Eh, lo kalau jalan yang benar dong!” Mega mulai kesal.
“Kok lo yang sewot sih? Kan elo yang dari tadi
ngehalangin langkah gua.” Balas Fajar tak mau kalah.
“Jangan memutar balikkan fakta ya! Jelas-jelas lo yang
dari tadi ngikutin gua.”
“hah? PD amat lo! Siapa juga yang ngikutin lo. Yang ada
lo tu yang ngikutin gua. Udah ngikutin gua kuliah disini. Nyari kos dekat-dekat
kos-an gua juga. Cinta amat lo sama gua?”
“ih, ogah! Siapa juga yang bakalan jatuh cinta sama cowo
saiko kayak lo.” Hujat Mega.
“Gua apalagi. Seumur hidup gua nggak bakal jatuh cinta
sama lo. Dasar, cewek kuntilanak!” balas Fajar.
“What? Apa lo bilang?”
“CEWEK KUNTILANAK. Kenapa? Budek lo?”
“ih, lo ngeselin amat sih! Dasar, cowok saiko!” Mega
memukul Fajar dengan dua buku tebal yang dibawanya.
“Ehm!” Dosen yang mengajar pagi itu memasuki kelas,
menghentikan perseteruan antara Mega dan Fajar yang sepertinya tak kan pernah
ada ujung. Mega duduk di sebelah Wina sembari mengomel sendiri. Sementara Wina
tampak melirik Novita. Keduanya sama-sama menggeleng, sirat makna.
Kuliah pagi itu berakhir jam 10. Wina dan Novita yang
paling terakhir meninggalkan kelas. Sementara Mega telah duluan keluar,
sepertinya hendak melanjutkan pertarungan dengan Fajar yang sempat tertunda.
Sembari membereskan buku-bukunya Novita berujar, “Gua heran deh sama Mega dan
Fajar. Kenapa sih tiap hari mereka selalu ribut? Dan apa coba yang mereka
ributin? Nggak jelas banget menurut gua.”
“Gua juga nggak ngerti sih kenapa mereka bisa begitu.
Padahal dahulu mereka pasangan yang klop banget.” Balas Wina.
Novita berhenti merapikan buku-bukunya, langsung menoleh
pada Wina. “Maksud lo, mereka berdua pernah jadian?”
“Yap.” Wina menjawab pasti. “Gua pernah satu SMA sama
mereka berdua. Mereka itu pasangan legendaris di SMA gua. Fajar, seorang kapten
basket, pujaan banyak cewek di SMA. Dan Mega, langganan juara karate tahunan.
Kebayang dong betapa populernya mereka di sekolah? Gua aja dulu termasuk
penggemar hubungan mereka.”
“Alasannya?”
“ya, karna itu. Mereka itu pasangan yang cocok banget.
Sama-sama cantik dan ganteng. Primadona sekolah. Trus gaya pacaran mereka nggak
sama kayak pacaran ABG kebanyakan yang pada alay dan nggak jelas gitu. Gua
masih ingat banget tuh saat keduanya sama-sama cuti sekolah selama 3 hari untuk
membantu korban bencana banjir di kampung gua. Sampai-sampai diberi penghargaan
oleh kepala sekolah.” Terang Wina.
Novita tiba-tiba mengerutkan dahi. “Lalu kenapa mereka
bisa putus?”
Wina tersenyum kecil. “Masalahnya sepele banget. Waktu
itu...”
***
Keriuhan di lapangan basket itu baru saja usai.
Pertandingan berakhir dengan kemenangan Tim Gibran atas Tim Fajar yang
merupakan langganan juara tahunan. Nama Gibran mulai dielu-elukan penonton.
Sementara Fajar berusaha menenggelamkan wajahnya di tengah keramaian itu. Fajar
melirik sejenak ke arah penonton, mencari seseorang yang sekiranya mampu
membuatnya baik-baik saja pada detik itu. Akan tetapi, apa yang disorot matanya
justru semakin membuat hatinya terbakar. Mega tampak berteriak kegirangan, ikut
mengelu-elukan nama Gibran yang mendadak menjadi idola sekolah detik itu juga.
Fajar menuju kursi penonton, ia menarik tangan Mega dan menyeret gadis itu
untuk keluar dari keramaian tersebut.
“Apa sih? Jangan tarik-tarik tangan gua dong!” bentak
Mega yang merasa risih dengan perlakuan tersebut.
“Ikuti gua sebentar!” tegas Fajar.
Tak banyak yang menyaksikan pemandangan itu, orang-orang
lebih terpusat pada Gibran yang diberi hadiah di tengah lapangan. Fajar membawa
Mega ke puncak gendung sekolah, tempat langganan mereka pabila ada sesuatu yang
mereka rasa perlu dibicarakan dan bersifat pribadi.
Mega melepaskan genggaman tangan Fajar. “Kasar banget sih
lo jadi cowok!”
“Maksud lo apa dukung tim Gibran saat pertandingan tadi?”
tanya Fajar tanpa basa-basi. Mega mengerutkan dahi, merasa bingung sendiri.
“Emangnya kenapa sih? Ada yang salah?” balas Mega.
“Kalau ditanya orang tuh langsung jawab. Jangan balik
nanya.” Nada suara Fajar semakin tinggi.
“Ya, jelas dong gua dukung tim Gibran, secara kan tim
Gibran mewakili kelas gua. Apa salahnya sih?”
“Ya, jelas salah. Karena itu artinya lo nggak menghargai
gua sebagai pacar lo.”
“Hah?” Mega semakin tidak mengerti. Dia menggeleng-geleng
sendiri. “Sensitif amat ya lo jadi cowok. Masa masalah gitu aja diributin.
Nggak penting!” Mega membalikkan badan, berniat meninggalkan tempat itu. Namun
Fajar kembali meraih tangan gadis itu, kembali berusaha mencegat langkahnya.
“Jangan sentuh gua!” tegas Mega sambil melepaskan
genggaman tangan Fajar untuk yang kedua kalinya. Fajar bungkam, raut wajahnya
jelas menunjukkan ketidakpercayaan atas sikap Mega yang demikian.
“Gua mau kita putus.” Mega berkata lugas. Fajar semakin
geram.
“Gua udah dari dulu pengen putus sama lo.” Balas Fajar,
tidak mau kelihatan kalah.
“Ya udah, kalau gitu ngapain masih dekat-dekat gua?”
“ih! Siapa juga yang mau dekat-dekat sama cewek
kuntilanak kayak lo!” hujat Fajar.
“Apa lo bilang? Cewek kuntilanak? Jaga ya tu mulut.
Dasar, cowok saiko!” balas Mega.
“Jangan seenaknya aja ya kalau ngomong. Biarpun gua
begini, lo pernah jatuh cinta juga kan sama gua.”
Mega tertawa. “Apa? Jatuh cinta? Jangan GR deh lo. Selama
ini gua jadian sama lo Cuma karna gua kasihan ngelihat lo ngemis-ngemis nembak
gua.”
Giliran Fajar yang tertawa. “Hahaha.. Gampang amat lo
ditipu ya! Gua waktu itu Cuma ngetes lo doang. Dan ternyata lo sama aja kayak
cewek-cewek kebanyakan. Sekali tembak juga langsung klepek-klepek.”
“What?”
“Apa? Lo marah? Emang gitu kenyataannya kan?”
Gadis itu semakin geram. Ia mengepalkan tangannya, ingin
rasanya menonjok wajah pria itu. Namun ia tak punya kuasa akan itu, ada sesuatu
yang bergejolak di hatinya, yang membuat kepalan tangan itu melemah. Akhirnya,
ia hanya mampu berujar. “Gua benci sama lo..” lalu beralih dari hadapan lelaki
itu.
“Gua jauh lebih benci sama lo.” Seru Fajar. Tanpa ia
sadari ada sesuatu yang terasa menyesakkan dadanya saat kata-kata itu terlontar
dari mulutnya. Amarah telah membutakannya. Emosi sesaat itu telah mengendalikan
jiwanya sampai-sampai ia tidak sadar bahwa ia baru saja melakukan suatu
tindakan paling bodoh seumur hidupnya.
***
“Apa? Cuma karena masalah itu?” Novita tak percaya
mendengar cerita Wina.
“iya. Pasti lo nggak percaya kan? Gua awal-awalnya juga
nggak percaya kalau mereka putus karena masalah sekecil itu. tapi emang gitu
kenyataannya.”
Dahi Novita kembali tampak mengkerut pertanda ia tengah
memikirkan sesuatu. “Tapi kayaknya mereka berdua masih saling suka deh.”
“Gua juga berfikiran begitu. Buktinya aja sampai sekarang
dua-duanya sama-sama nggak punya pacar lagi. Trus mereka berdua sama-sama
kuliah di kampus yang sama, dengan jurusan yang sama juga. Selain itu,
kos-kosan mereka berdua juga hadapan-hadapan lhow. Gua sih nggak yakin kalau
semua itu Cuma kebetulan.”
“Iya juga sih.” Tanggap Novita. Tiba-tiba wajahnya
mendadak berbinar pertanda ada sesuatu ide cemerlang yang melintas di benaknya.
“Gimana kalau kita bikin mereka berdua balikan lagi?”
“Ide bagus tuh. Tapi gimana caranya?”
“Gua sih punya ide. Tapi kayaknya kita butuh orang lain.”
***
Fajar memasuki kamar. Rambutnya sedikit basah,
menampakkan sisa gerimis di luar. Kesibukan dunia kampus ditambah perang rutin
dengan Mega membuat tenaganya terkuras habis tiap hari. Namun sebenarnya ada
sebersit bahagia yang ia rasa setiap kali ia perang mulut dengan Mega. Bukan
karna kalah atau menang. Namun karena sesuatu yang tak juga bisa ia
terjemahkan. Fajar mendapati kamar itu dalam keadaan kosong. Tak seperti
biasanya.
“Joo.. Jojo..” ia memanggil teman sekamarnya, sang kutu
buku yang biasanya selalu berdiam di kamar selepas pulang dari kampus. Namun
tak ada sahutan.
“Jo.. Gua bawain mi ayam pesanan lo tu. Lo dimana sih?
Lagi di wc ya?” tetap tak ada sahutan. Fajar justru mendapati kamar mandi dalam
keadaan kosong. Fajar jadi bingung sendiri. ia hafal betul bahwa rute
perjalanan teman sekamarnya itu hanya sebatas kos-an dan kampus. Tak mungkin
juga Jojo masih di kampus. Karena setau Fajar, Jojo tak punya kegiatan
organisasi apapun yang memaksanya untuk pulang habis maghrib.
Tiba-tiba handphonenya berbunyi. Panggilan dari Jojo.
“Halo, Jo! Gua udah di kos nih, Lo dimana?” tanya Fajar sembari mendekatkan
handphone itu ke telinganyanya dengan menekan tombol answer terlebih dahulu.
“Tolong gua, Jar! Gua dibegal!” terdengar suara menyahut
ketakutan.
“Apa? Lo dibegal? Trus posisi lo dimana sekarang?” Fajar
mendadak panik.
“Gua disekap di rumah tua belakang kampus. Tolong gua,
Jar.. kalau lo nggak dateng kemungkinan besar gua bakalan dipotong-potong, trus
dikardusin, trus dibuang. Gua belom mau mati, Jar. Tolong, gua!” pinta Jojo
dengan suara gemetaran menahan rasa ketakutan.
“Tenang dulu, Jo. Lo banyak-banyak zikir aja dulu. Gua
kesana sekarang. Gua pasti bantuin elo.. tenang, ya!”
“Iya, Jar. Cepat ya, Jar.!”
“tapi, tunggu, deh..” ada sesuatu yang melintas di
fikiran Fajar. “Kok lo bisa dibegal sih? Apa coba motivasi tukang begal buat
ngebegal lo? Lo aja nggak punya motor atau kendaraan apa-apa kan, trus hp lo
juga nggak keren-keren amat, dan uang disaku lo palingan Cuma 20 ribu..”
“Lo kebanyakan ngomong, monyong! Emangnya orang kalau mau
ngebegal pake interview dulu apa? Nggak kan? Bego, lo.. lagian gua masih punya
cincin akik antik warisan bokap gua, trus organ dalam gua juga masih utuh
semua, dan otak gua juga encer banget. Lumayan kan kalau dijual pada
orang-orang yang nggak punya otak kayak lo..”
“Anjir.! Kok lo jadi ngata-ngatain gua sih?”
“Jangan kebanyakan ngomong, Jar. Gua udah hampir mati
nih.. cepat kesini, buruan!” panggilan itu terputus. Begitu panggilan itu
terputus, Fajar langsung bergegas keluar dari kamarnya. Langsung menaiki sepeda
motornya yang masih terparkir di halaman.
***
Mega baru saja hendak merebahkan badannya di tempat tidur
saat handphonenya berdering mengantarkan pesan singkat dari Wina. Mega langsung
membuka pesan tersebut dan spontan matanya terbelalak saat membaca kata-kata
yang bertuliskan, “Mega, plis, bantuin gua. Gua disekap di rumah tua belakang
kampus.”
Tanpa berfikir lebih lama lagi Mega langsung meraih jaket
kulitnya lalu bergegas menuju tempat yang diberitahu oleh Wina. Sepanjang
perjalanan ia berdoa semoga tidak terjadi apa-apa pada Wina dan semoga saja
kedatangannya nanti tidak terlambat. Saat Mega memberhentikan motornya, sebuah
sepeda motor lain tlah terlebih dahulu terparkir disana. Mega amat mengenali
motor itu. “Ini kan motor Fajar..” gumamnya. Daripada sibuk menerka-nerka, Mega
langsung memasuki rumah tua itu. Dan benar saja ia mendapati Fajar tengah
berjalan mengendap-ngendap.
Mega langsung mengepalkan tangannya dan tanpa berfikir
panjang lagi ia langsung memukul pundak Fajar dari belakang. Hal itu berhasil
membuat Fajar terjatuh ke lantai, sementara Mega langsung mengambil sikap
kuda-kuda.
“lo? Kok lo ada disini?” tanya Fajar sembari berusaha
bangkit.
“Nggak usah sok bego. Cepat lo lepasin teman gua atau lo
bakalan mati malam ini juga. Cowok saiko!”
“apa sih maksud lo?” fajar semakin tidak mengerti, lalu
tiba-tiba ada sesuatu yang terlintas di benaknya. “ooo,, ya, ya, ya. Gua paham
sekarang. Jadi lo yang ngebegal si Jojo? Benar-benar cewek kuntilanak lo
ternyata, ya!”
“Jangan banyak omong!” Mega meremas kerah baju Fajar.
“Kasih tau gua dimana lo sekap Wina.”
Fajar tak membalas. Ia membungkam seketika. Ada sesuatu
yang membuatnya seketika bisu. Ia menyadari bahwa itulah jarak terdekatnya
dengan Mega semenjak mereka putus 3 tahun yang lalu. Diam-diam Fajar menyadari
bahwa rasa yang dulu ada itu masih ada sampai detik itu. Melihat kebungkaman
Fajar, Mega justru semakin geram. Ia melayangkan tinjunya tepat di pipi Fajar.
“Brengsekk..!” hujat Mega.
“Jaga ya mulut lo!” Fajar mengarahkan telunjuknya ke
wajah Mega. “Gua nggak ngerti dari tadi lo ngomong apaan. Jangan pikir karena
lo juara karate trus gua takut sama lo. Gua emang nggak bakal balas nonjok lo,
bukan karna gua takut sama sabuk hitam lo, tapi karna gua bukan cowok pecundang
yang main tangan sama cewek.”
Mega melayangkan tinjunya lagi, namun kali ini berhasil
ditangkis Fajar. “Gua nggak tau apa-apa soal Wina.” Tegas Fajar. “Gua kesini
buat bantuin Jojo yang dibegal preman.”
“Trus lo pikir gua percaya?” Mega menggeleng, kali ini
melayangkan kakinya. Mau tidak mau Fajar pun harus menanggapi serangan sang
juara karate itu. tiba-tiba Jojo, Wina, dan Novita datang melerai mereka.
“Stop......! berhenti....!” tegas Novita.
“kalian, kok?” Mega mengerutkan dahinya. Ia melirik Wina.
“Win, lo nggak apa-apa? Nggak diapa-apain kan sama cowok saiko ini?”
Fajar pun tak kalah kebingungan. “Nah, Jo? Lo udah
bebas?”
Jojo, Wina dan Novita saling pandang, diskusi lewat sorot
mata. “Gua dan Wina nggak apa-apa.”
“Wait,, kok gua merasa ada yang aneh gini ya? Bukannya
tadi lo bilang kalau lo lagi disekap? Atau yang nyekap lo itu si Jojo sama
Fajar? Ceritain aja ke gua, Win! Biar gua yang ngasih mereka pelajaran..” ujar
Mega berusaha meyakinkan Wina.
Wina kembali melirik Jojo dan Novita, lalu memantapkan
pandangan pada Mega. “Gua nggak disekap. Ini semua Cuma akal-akalan gua,
Novita, dan Jojo agar lo dan Fajar datang kesini.” Wina akhirnya mengakui.
“Gua masih nggak ngerti..” desis Mega.
“Mega, kami Cuma kepengen kalian baikan dan balikan lagi.
Karna kami tau kalian sebenarnya saling cinta.” Jelas Novita.
Mega tersenyum sinis. “Trus kalian pikir kalian cara
kalian ini udah yang paling bener?” Mega menggeleng. “Ini sama sekali nggak
berarti apa-apa buat gua. Kalau kalian pikir gua akan terjebak, kalian salah
besar. Gua nggak bego.” Mega meninggalkan tempat itu, bias kecewa jelas
terpencar di wajahnya.
Wina mencegat langkah Mega. “Sampai kapan sih lo akan
munafik? Sampai kapan lo akan membohongi perasaan lo sendiri?”
“Tau apa lo tentang hati gua?”
Wina diam sejenak, lalu membalas mantap. “Gua tau kalau
lo masih cinta sama Fajar.”
Giliran Mega yang bungkam. Ia melirik Fajar yang juga
menatapinya sedari tadi. Lalu menggeleng. “Lo salah besar, Win.” Tuturnya lalu
meninggalkan tempat itu.
Fajar tak berujar apa-apa. Tak juga menyalahkan Jojo. Ia
hanya bisa melihat bayang Mega yang menjauh meninggalkan mereka. Bagi Fajar,
rencana teman-temannya itu telah berhasil. Setidaknya, mereka telah berhasil
membuat Fajar menyadari bahwa arti Mega dalam hidupnya tak pernah bisa berubah.
Fajar turut meninggalkan tempat itu.
***
Sudah satu jam gadis itu berdiri disana. Entah untuk apa.
Dari tadi ia hanya memandangi ombak yang silih berganti memecah di bibir pantai.
Angin yang bertiup halus menerpa helaian rambutnya justru terasa menyayat
hatinya. Ia merasa keperihan. Perih atas rindu yang ia balut dengan
benang-benang amarah. Sebenarnya ia tak pernah sungguhan benci, justru ia amat
mencintai Fajar, dari dulu dan tak pernah berubah sedikit pun. Namun ia juga
tidak mampu memahami mengapa kegengsian itu mampu menenggelamkan perasaannya.
Sesungguhnya yang ia punya hanyalah secuil rasa kecewa.
Senja,
jangan kau datang
Pada
sorot mata buram di ufuk temaram
Seikat
jingga kau lempar sebelum kau tenggelam
Kupejamkan
mata, resapi sisa dahaga
Akankah
kau beri kabar usai segala rindu terbakar
Satu
sore dibalik kata dahulu
Sebungkus
rayu ku kira syahdu namun kini buatku pilu
Ingatkah
kamu bisik sang ombak kala itu
Deburnya
mengikis pasir putih
Kau
rekatkan jemariku karna takut aku kan beralih
Dan...
setiap keping masa itu buatku tercekat
Karena
hanya baris nostalgia yang ku pegang erat
Tentang
sang mega dan kedipan jingga
Karnamu,
aku membenci senja
Seseorang tiba-tiba berdiri di sebelahnya. “Jangan pergi!
Mega akan hadir beberapa detik lagi.” Ujar seseorang itu. Mega menoleh dan tak
mempercayai bahwa sosok yang berdiri di sebelahnya itu adalah Fajar.
“Gua disini bukan untuk sebuah permintaan maaf. Gua
disini hanya untuk mengembalikan satu kisah sebelum kisah itu terlanjur usang.”
Lanjut Fajar.
“Terlambat.. Bagi gua kisah itu sudah selesai. Dan gua
udah buang bukunya jauh-jauh.” Balas Mega.
“Bohong.! Lo bohong! Seorang pembohong tidak akan pernah
berhasil mengelabui seorang pembohong juga.”
Mega menoleh. Mencari makna dari ucapan Fajar tersebut.
“Apa maksud lo begitu? Maaf, gua bukan orang yang butuh disanjung beberapa
detik lalu dihempas di detik berikutnya.”
Fajar tersenyum kecil. “Gua juga nggak ngerti mengapa
kita sama-sama nggak bisa berhenti munafik. Padahal kita sama-sama tau bahwa
rasa itu masih ada, nggak pernah berubah sedikit pun.”
Mega berusaha menahan agar ia tidak terbawa perasaan
dengan kata-kata Fajar saat itu, ia berusaha agar cinta tak menunjukkan
kelemahannya di detik itu. “Bukankah elo yang bilang kalau lo jadian sama gua
Cuma buat ngetes gua. Lo nggak pernah punya perasaan apa-apa sama gua dan lo
nggak bakal jatuh cinta sama cewe kayak gua.”
“Dan lo juga kan yang bilang kalau lo jadian sama gua
Cuma karna kasihan, Cuma buat sebuah permainan.”
Nyaris airmata tumpah dari pelupuk mata gadis itu. sebisa
mungkin ia berusaha menahannya. “Mungkin perkataan gua waktu itu memang benar.
Lo pasti juga tau kan, Fajar nggak mungkin ketemu Mega, sampai kapan pun.” Ia
menarik langkahnya mundur, berniat pergi. Namun lagi-lagi Fajar mencegatnya.
Laki-laki itu meraih jemarinya dan hal itu mampu membuat darah mega berdesir
deras.
“lo benar. Fajar nggak bakal mungkin ketemu Mega.
Kalaupun itu terjadi, itu hanyalah sebuah keajaiban. Dan menurut gua, ketemu
elo adalah sebuah keajaiban. Gua nggak mau kehilangan keajaiban itu.” tutur
Fajar lalu mengarahkan telunjuknya pada cahaya jingga yang membias di ufuk
barat.
Mega bungkam. Pertahanannya runtuh sudah. Satu tetes
airmata mencuat dari pelupuk matanya. Ia melirik Fajar, menatap satu-satunya
laki-laki yang mampu membuat jantungnya berdegup hebat lalu mampu membuat
jantungnya mati suri. Hanya satu sosok itu yang bisa. Mega membalas genggaman
jemari Fajar. Kali ini ia balas dengan genggaman erat seiring isak yang lahir
satu-satu pertanda ia tak ingin melepaskannya lagi. Tak ingin rasa cinta itu
ditutupi dengan kebencian lagi. Mereka menghadapkan wajahnya pada cahaya
Jingga, salam hangat perpisahan sang surya sebelum tenggelam. Biarlah bias
jingga itu yang meleburkan segala kristalan rindu. Biarlah debur ombak itu yang
mendengar suara hati mereka yang barangkali masih memperdebatkan kata apa dan mengapa.
Sejatinya, perihal cinta dan hati tak seorang pun yang dapat memahami.
Komentar
Posting Komentar