Tentang Jurusan KIMIA di KBM FMIPA UNP



Chemistry of KBM FMIPA
24-26 November 2017

KIMIA UNP
VIRA NILMANIA:
“Kita bukan teman, karena seorang teman mungkin saja meninggalkan kita atau sebaliknya. Kita bukan saudara, karena persaudaraan juga masih memungkinkan untuk saling meninggalkan. Tapi kita adalah satu jiwa, jiwa kimia, yang tak mungkin terpisah oleh apapun, kecuali mati.”
   













Salam dari saya,,
            Kenapa saya menulis tulisan ini?
            Karna waktu yang tiga hari itu amat luar biasa bagi saya.
            Saya tak ingin jika hanya menyimpannya saja dalam memori.
            Suatu saat saya akan menua, ingatan saya memudar, satu per satu terlepas dari memori.
            Saya tidak ingin ingatan yang ada pada tulisan ini turut lenyap..
            Saya menulis bukan untuk siapa-siapa, juga bukan untuk apa-apa, melainkan untuk diri saya sendiri.
            Sekiranya kelak tulisan ini berpindah tangan,
            Saya sangat berharap tulisan ini bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.
            Saya pun mohon maaf jika ada kata-kata dalam tulisan ini yang menyinggung pihak lain.
            Saya juga mohon maaf atas kesalahan-kesalahan yang mungkin tak saya duga.
            Tak ada yang perfect di alam semesta ini, apalagi saya.
           





Jum’at, 24 November 2017
            Hari itu pun akhirnya tiba. Kampus Biru benar-benar penuh sesak dengan warna biru. Seribu dua ratus lebih mahasiwa mengenakan seragam kompak, celana training dan baju kaos biru. Sebagian dari mereka berkepala botak dan selebihnya berbalutkan jilbab hitam meski ada sebagian kecil yang hadir dengan rambut hitam terurai. Tak ada yang berbeda. Wajah-wajah polos itu sama-sama menapaki embun pagi dengan raut wajah berseeri. Seolah tak peduli dengan gundukan ransel di punggung. Seolah tak membayangkan betapa terik mentari dan guyuran hujan yang akan menyambut mereka nanti. Keriuhan itu hadir lebih awal. Bahkan tak menunggu mentari cuci muka terlebih dahulu.
            Di balik kampus eksakta yang diteduhi oleh pepohonan rindang di halamannya, terdapat lima posko pelangi. Yang pertama ialah posko ungu, istana para mahasiswa-mahasiswa yang terbiasa menghitung gerak. Di sebelahnya terdapat posko hijau, singgasana mahasiswa-mahasiswa yang piawai dengan organisme tak kasat mata. Kemudian diikuti oleh posko abu-abu, tempat segala keterpaduan berkumpul. Selanjutnya ialah posko merah, wisma bagi mahasiwa-mahasiswa yang gemar bermain dengan angka dan segala misterinya. Dan yang terakhir ialah posko orange, rumah kami, rumah mahasiwa-mahasiwa yang tak henti bereaksi.
            Di rumah kami, kegaduhan tak hanya berlangsung hari itu. Kesesakan tak hanya datang tiba-tiba saat pagi. Ruangan yang hanya berukuran sekitar 3x3 m itu penuh oleh barang-barang pungutan seminggu belakangan. Mulai dari tas-tas ransel besar, peralatan dapur, karpet, ember, plastik, dan sebagainya tak lagi dapat dipisahkan. Jika ada mahasiswi yang hadir pagi itu tanpa memboyong ransel, tak perlu diragukan lagi, mereka-mereka adalah pasukan ranger orange. Di kimia, semua cewek adalah ratu. Tak seorang pun yang diperkenankan melakukan pekerjaan berat bahkan yang ringan sekalipun. Disaat status senior dan junior mulai dipudarkan di lingkungan mahasiswa, bagi pasukan ranger orange status senior dan junior justru harus diperkental, tak boleh lenyap.
            Jam tujuh pagi kami dikumpulkan oleh panitia. Barisan di atur berdasarkan deret tenda. Raut wajah antusias terpancar jelas di wajah kami. Bagaimana tidak, hari itu dan itu 3 hari ke depan kami akan berada di luar lingkungan kampus, mengabdikan diri kami sepenuhnya pada masyarakat. Rasa antusias itu semakin meningkat karena sebagian besar dari kami akan mengalami pengalaman pertama berkemah. Dan tiga kali dua puluh empat jam ke depan kami akan bersama, memupuk rasa  persaudaraan dalam saling tolong menolong dan kerja sama. Cuaca mendung pagi itu tak ampuh untuk meruntuhkan semangat kami.
            Pasukan kimia di komandokan untuk menaiki bus bernomer 21 sampai 30. Yang cewek diinstruksikan untuk bergegas menaiki bus sementara pasukan cowok kimia tanpa komando mengangkat barang-barang perlengkapan kemah ke dalam bus. Saat itulah dramatis jingga dimulai. Keringat lelaki-lelaki muda itu bercucuran mengangkat beban puluhan kilo. Kekompakan dan kerja sama jelas mereka tunjukan. Disinilah status senior dan junior melebur. Senior kimia dari berbagai angkatan turun untuk membantu junior mereka. Perbandingan 1:5 antara cowok dan cewek kimia membuat beban laki-laki kimia amat berat.
            Kami yang menyaksikan semua itu dalam bus diserang rasa haru. Bagaimana tidak, senior yang selama ini kami beri label aneh-aneh, justru mereka yang turun tangan membantu kami. Bus kami akhirnya berangkat. Para manusia berkepala gundul tersandar di kursi mobil dengan paras penuh kelelahan. Air mineral yang bergantian kami berikan barangkali tak kan mampu mengusir dahaga mereka. Akhirnya, waktu tempuh perjalanan sekitar 90 menit mereka manfaatkan untuk terlelap.
            Kampung Bendang, kec. VII Koto Sungai Sarik menyambut kami dengan hawa panasnya. Saat itu matahari tengah gagah-gagahnya berdiri di puncak langit. Saat melirik jam, tampaklah jarum jam yang berimpit diangka sebelas. Dari pemberhentian bus tersebut, kami juga harus menempuh perjalanan kaki sekitar 500 meter. Barangkali tak masalah bagi kami para cewek yang hanya membawa badan kami sendiri. Namun bagi manusia berkepala gundul justru sebaliknya. Mereka kembali mengangkat beban puluhan kilo dalam jarak ratusan meter. Tak hanya untuk sekali, tapi berulang-ulang kali.
            Kami di beri suguhan lapangan hijau dengan aliran sungai di pinggirnya. Indah memang, namun terik mentari yang menyengat kulit membuat kami mengabaikan keindahan panorama tersebut. Manusia-manusia yang membawa TOA mengomandokan kami untuk duduk di atas rerumputan hijau, menuntut kami untuk merasakan sorotan matahari secara langsung. Sebenarnya tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa kepanasan yang dirasakan oleh laki-laki berkepala gundul yang berkali-kali menurun dan mendaki dengan beban puluhan kilo. Namun kami para cewek-cewek sepertinya tak bisa henti mengeluh.
            Sebagian besar dari kami mengedarkan pandangan ke sekeliling, lapangan yang luas, sama sekali tak tersedia sebatang pohon pun untuk berteduh. Lalu suatu pemikiran bak ultimatum muncul, kami akan berada disana untuk tiga hari. Mendadak teringat akan kamar kos di Padang, teringat akan bentangan kasur dan putaran kipas serta secangkir minuman dingin yang sangat mungkin untuk kami dapatkan. Tak seperti di tempat ini. Tapi kami sudah berada disana, terlalu sayang jika harus membungkus kembali semangat yang dari pagi telah kami kibarkan. Apapun yang terjadi kemah bakti ini harus tetap berlanjut.
            Sekitar 30 menit kemudian kami dikomandokan lagi untuk berjalan ratusan meter, menuju tempat yang sesungguhnya akan menjadi rumah kami hingga 3 hari ke depan. Rasa antusias yang tadi hampir surut kembali muncul saat melewati plang yang diatasnya diberi spanduk bertuliskan “Selamat datang peserta kemah bakti mahasiswa FMIPA UNP 2017”. Mahasiswa! Ya, kata itulah yang menuntut kami untuk berada disana. Sesuatu yang berawalan ‘maha’ haruslah menjadi sesuatu yang tangguh. Di tempat itu, seratus lebih tenda telah terpasang, namun duduk di dalam tenda atau berdiri di luar tenda bukanlah sebuah pilihan saat itu. Tak ada bedanya.
            Waktu makan siang seolah tak mau absen untuk satu hari saja. Perut langsung peka dengan mulai mengeluarkan nada-nada tak berirama. Naasnya, kami tak punya makanan sedikit pun. Tentengan yang kami persiapkan dari jauh-jauh hari diambil alih oleh para cowok-cowok kami. Para pedagang di sekitar tempat itu pun tak menyediakan makan siang. Alhasil kami hanya bisa mengisi perut dengan literan air mineral atau makanan-makanan ringan yang sama kali tak akan menimbulkan rasa kenyang. Tak semua peserta senaas itu. Hanya kami saja, para pasukan kimia. Sementara peserta jurusan lain bisa-bisa saja membuka tentengan mereka, makan melingkar di bawah pohon, atau enak-enakan ngemil roti dan biskuit bawaan dari Padang. Dibalik itu semua, kami menyadari arti kebersamaan. Jika kami tak punya cukup daya untuk mengangkat beban puluhan kilo seperti cowok-cowok kami, setidaknya kami harus bisa untuk menahan lapar dan merasakan kepanasan seperti yang mereka rasa. Maka, siang itu, saat matahari tengah gagah-gagahnya dan saat para cewek-cewek jurusan lain berteduh di tenda, kami para gadis-gadis tangguh kimia duduk di tengah lapangan, membawa botol botol air mineral, tisu, makanan ringan, bahkan kardus bekas untuk menyambut cowok-cowok kami.
            Muncullah wajah-wajah yang kami hafal, mereka terhuyung-huyung membawa beban yang melebihi setengah dari berat badan mereka. Keringat mereka bercucuran. Tapi begitu melihat kami dari kejauhan, mereka tersenyum, menegakkan pundak-pundaknya seolah bicara pada kami bahwa mereka melakukan semua itu buat kami. Begitu beban lepas dari pundak mereka, kami para cewek langsung mendekat, memberikan minuman, menyuapi makanan yang sekiranya mampu menambah energi, lalu menyeka keringat yang jatuh dari pelipis mereka sebelum akhirnya mereka membalikkan badan lagi untuk berjalan ratusan meter lagi menjemput beban puluhan kilogram lagi. Tapi abang-abang dan kakak-kakak kami tak akan tinggal diam atau membiarkan cowok-cowok botak itu mengangkat bebannya. Sebuah mobil pick up pun disewakan. Lalu abang-abang kami turun tangan saling membantu mengangkat barang hingga menurunkan lagi serta memindahkan ke tempat yang ditentukan. Sementara kakak-kakak kami bergegas ke tenda konsumsi. Mereka juga tak mungkin menutup mata dan telinga dengan bunyi perut kami yang sudah ngotot pengen diisi.
            Kami saling mengingatkan, saling menjaga dan saling bekerja sama. Tak ada yang cuma duduk manis sambil menunggu pembagian tenda. Kita satu jiwa, jiwa kimia, maka kita harus satu rasa. Kami mendapatkan pembagian tenda paling ujung, bersebelahan dengan tenda pionir dan jauh dari panggung acara. 28 tenda tersedia buat kami disana. Kami diminta memasuki tenda untuk beristirahat sembari menunggu makan siang. Sementara cowok-cowok kami dan para senior masih belum berhenti mengangkat barang-barang, pindah dari satu sisi ke sisi lain. Aksi dramatis terulang lagi. Teriknya panas mendadak berganti menjadi hujan diiringi angin kencang. Kami tak mungkin bisa lupa momen itu, saat mantel silver serentak menyelimuti badan, dan para cowok-cowok kimia tanpa memandang angkatan langsung bergegas membentangkan terpal dan membuat saluran air, menginstruksikan para cewek buat masuk sementara mereka diluar berbasah-bahasan. Sebenarnya mereka bisa saja membiarkan kami. Toh, tenda-tenda sudah terpasang. Basah atau tidak basah memanglah harus menjadi resiko orang-orang yang hadir ke lapangan terbuka. Namun abang-abang dan kakak-kakak serta cowok-cowok kami yang luar biasa itu tidak akan membiarkan kami kesusahan sedikit pun. Kami masih hafal betul bagaimana raut wajah mereka berbasah-basahan, bagaimana urat-urat mereka tampil ke permukaan, dan bagaimana keringat-keringat mereka melebur dengan air hujan. Amat membawa haru. Para laki-laki itu telah berkorban banyak buat orang-orang yang barangkali tak mereka hafal nama dan wajah.
            Hujan berhenti, hari telah sore. Satu per satu dari kami mulai keluar tenda. Ada yang bolak-bolik ke tenda konsumsi untuk menjemput makanan atau sekedar mengingatkan bahwa waktu makan siang sudah terlewatkan amat jauh. Kakak-kakak itu sebenarnya juga mengerti sedari tadi, namun faktor cuaca yang tak memungkinkan untuk menyuguhkan nasi. Bungkusan-bungkusan nasi pun diantar ke tenda. Kami dipersilahkan makan. Akan tetapi begitu makanan datang, panitia kembali bersuara dengan TOA-nya, mengomandokan kami untuk berkumpul segera dan mengikuti acara pembukaan. Mau tidak mau, makan siang itu kembali tertunda.
            Acara pembukaan yang silih berganti diisi dengan kata sambutan berakhir seiring dengan adzan maghrib. Rasa lapar dan lelah amat merasuki kami. Kami dipersilahkan untuk melaksanan sholat maghrib terlebih dahulu sementara abang-abang dan kakak-kakak kami menggelar terpal dan menyuguhkan makanan. Makanan pun tersaji. Nasi dan lauk apa adanya dibentang diatas terpal yang dialasi kertas nasi. Semua peserta KBM dipersilahkan duduk berhadapan-hadapan dengan posisi duduk kaki kanan diangkat. 250 lebih berkostum biru pun duduk disana. diantara-antara kami turut bergabung juga kakak-kakak dan abang-abang kami. Saat itulah untuk pertama kalinya kami makan malam bersama. Sebenarnya itu bukanlah makan malam, melainkan makan siang yang dijamak pada waktu makan malam. Untuk pertama kalinya juga kami mengalami makan jamak qashar. Akan tetapi kebersamaan terasa menyelamatkan semua penderitaan.
            Usai makan malam itu kami kembali diinstruksikan panitia untuk berkumpul dan berpartisipasi dalam penampilan minat bakat. Diawali dengan jargon masing-masing jurusan kemudian dilanjutkan dengan penampilan pertama, tembang merdu dari salah seorang cewek manis kimia. Hanya sekitar satu jam kami sanggup bertahan disana, setelah itu rasa kantuk ditimpuk rasa kelelahan pun mulai menghinggapi kami. Satu per satu dari kami mulai keluar dari kerumunan dan meninggalkan tenda. Namun panitia justru melakukan razia ke tenda-tenda, membangunkan kami yang baru saja hendak merebahkan punggung. Saat itu juga abang-abang kami turun tangan. Lagi-lagi kami terharu dengan sikap abang-abang kami yang mati-matian buat membela kami.
            “Bialah adiak-adiak wak tu lalok lai kak. Latiah adiak-adiak waktu mah kak. Tadi lah kanai hujan lo,, tu makannyo talaik lo. Tadi lah ka makan adiak-adiak wak basuruah lo ikuik acara pembukaan. Lah banyak adiak-adiak wak ko yang tumbang dari tadi kak.”
            Begitulah kata-kata pembelaan dari abang-abang kami. Amat mendatangkan haru. Mereka tetap menginstruksikan kami untuk beristirahat. Bagi mereka, kesehatan kami jauh lebih penting daripada sekedar acara hura-hura di depan pentas.


Sabtu, 25 November 2017
            Hari tlah berganti. Sepanjang malam cowok-cowok kami berkeliling mengitari masing-masing tenda untuk memastikan kami baik-baik saja. Terkadang ada beberapa dari kami yang terbangun dan ingin buang air, maka mereka jualah yang menemani kami untuk ke sungai lalu mengantarkan kami kembali ke tenda dan memastikan kami untuk terlelap lagi. Cowok-cowok itu seperti tak mengenal lelah dan dingin. Padahal warna merah dimata mereka dan cahaya mata mereka yang redup sudah terang-terangan mengatakan pada kami bahwa tubuh itu butuh istirahat. Tapi mereka masih tetap memikirkan kami. Karena manusia bukanlah robot, maka penjagaan malam itu diatur dengan shift waktu, mereka tidur bergilir. Tidur mereka bukanlah di dalam tenda, tak senyenyak kami yang mungkin masih sempat untuk bermimpi. Mereka tidur di lapangan terbuka hanya beralaskan terpal dan sehelai kain sarung yang sepertinya juga tak cukup menutupi seluruh permukaan tubuh mereka. Abang-abang kami pun demikian, ada yang tidur di depan tenda kami, ada yang tidur sambil duduk dan banyak yang tidur di tengah lapangan dengan posisi tak lagi beraturan.
            Subuh pun datang. Satu per satu dari kami keluar tenda dengan wajah kusut selayaknya bangun tidur namun tubuh seperti baru mendapatkan isi ulang energi. Kami berboyong-boyong ke sungai untuk cuci muka dan gosok gigi atau cuci tangan dan kaki sekadarnya. Tak ada kesempatan buat mandi, juga tak memungkinkan untuk berbersih-bersih diri. Usai sholat subuh beberapa orang dari kami bergegas ke tenda konsumsi, membantu kakak-kakak kami mempersiapkan sarapan pagi. Dan yang lainnya mengikuti instruksi panitia untuk melakukan senam pagi.
            Pagi itu kami mengganti seragam kami, tak lagi kaos biru, melainkan kaos berwarna orange yang bertuliskan angkatan kimia diatas kami. Abang-abang dan kakak-kakak kami sengaja meminjamkan baju mereka dengan tujuan agar kami mudah untuk saling mengenal saat di lapangan. Sementara baju orange angkatan kami yang belum keluar dari plastiknya itu kami persiapkan untuk malam puncak nanti. Pagi itu tak ada seorang pun cowok kimia yang mengikuti senam pagi, semuanya terlelap, tidak tahan dengan rasa kantuk dan penat yang menimpuk sekujur tubuh mereka,
            Inti dari kegiatan KBM ini adalah pengabdian. Dan acara pengabdian itu dimulai setelah acara sarapan pagi bersama. Kami serentak keluar dari ruang penampungan, menuju lingkungan masyarakat dan akan melaksanakan berbagai pengabdian yang telah ditentukan panitia. Ada yang membersihkan jalan, mushola, kantor wali korong, dan ada juga yang mendapat tugas untuk mengadakan sosialisasi di sekolah-sekolah dasar. Diantara ribuan orang itu amat sangat mudah untuk menemukan anak kimia. Lihat saja yang mengenakan baju orange. Kami keluar dari lapangan dengan berjalan dalam bentuk barisan dan kembali lagi bersama-sama dalam bentuk barisan.
            Kegiatan pengabdian kami berakhir sebelum tengah hari. Semua peserta kembali ke lapangan tempat berkemah. Pasukan orange tampak berjalan bersama sembari menyenandungkan yel-yel atu jargon pembangkit semangat. Begitu kembali ke tempat kemah, kakak-kakak dan teman-teman kami yang tidak ikut pengabdian pun menyuguhkan minuman dan roti untuk pengusir dahaga dan pengembalian energi kami. Rasa kekeluargaan itu amat terasa. Chemistry itu tak cuma sebatas kata atau istilah.
Menjelang waktu makan siang kami pun berkumpul untuk membahas mengenai persiapan yel-yel dan parodi yang akan kami tampilkan nanti malam. Meski di bawah teriknya matahari kami tetap berkumpul, sama-sama berpanas-panasan untuk mendiskusikan persiapan yang akan kami suguhkan pada malam puncak nanti. Banyak properti kami yang tak ditemukan, banyak juga teman-teman kami yang tumbang karena tak kuasa menghadapi aroganisme cuaca. Posisi untuk penampilan pun disusun ulang. Kami kembali latihan di tenda masing-masing dengan dipandu oleh teman-teman yang lebih tahu akan penampilan nanti. Kami mengulang kata-kata maupun gerakan-gerakan yel-yel yang telah kami persiapkan semenjak jauh-jauh hari. Sementara tim parodi membentuk satu tim lingkaran juga, mengulang-ulang lagi pelafazan naskah mereka dan apa-apa saja yang sekiranya mesti diperbaiki.
Makan siang pun disuguhkan. Kami duduk merapat kembali diatas terpal, menikmati makanan yang barangkali tak seberapa namun amat sangat kami nikmati kala itu. naasnya, gerimis turut menemani kami makan kala itu. Untuk pertama kalinya juga kami makan sayur yang kuahnya adalah air hujan.
Gerimis siang itu berlanjut hingga sore. Kegiatan games yang telah dirancang panitia pun tak terlaksana. Menjelang sore hanya suara musik-musik pop yang terdengar dari panggung, terdengar sayup karna bertanding dengan nada hujan. Disaat cowok-cowok jurusan lain asik-asik berjoget dalam hujan, cowok-cowok kimia justru lebih memilih berada di sekitar tenda, memastikan bahwa kami baik-baik saja. Saat kami tanya, “Apa kalian nggak tertarik buat ikutan joget disana?” Mereka menjawab, “Kami lebih tertarik untuk menjaga cewek-cewek kami.”
Saat hujan tak lagi lebat, kami pun membuat lingkaran di tengah-tengah lapangan. Nyanyi-nyanyi bersama, tertawa-tertawa sama senior, tak lupa pula aksi jargon dan yel-yel. Amat sangat menyenangkan. Kami merasa seperti saudara, seperti sahabat yang kenal lama. Namun cuaca lagi-lagi tak bersahabat. Hujan lagi dan kami tak punya pilihan lain selain berdiam diri di tenda. Hingga maghrib pun hujan tak juga reda. Tak ada makan malam bersama malam itu. Kami cuma menikmati makan malam ditenda dengan penerangan seadanya. Namun melihat perjuangan abang-abang dan kakak-kakak kami, rasanya tak pantas lagi jika kami masih mengeluh. Lihatlah, mereka sudi berbasah-basah mengantarkan makanan buat kami, lalu berkeliling lagi untuk memastikan bahwa kami baik-baik saja.
Waktu maghrib tlah berlalu, hujan semakin lebat. Air sungai mulai naik. Genangan air pun muncul di depan-depan tenda kami. Malam itu semakin terasa mengerikan karna angin kencang yang seolah hendak mengobrak-abrik tenda. Kami diinstruksikan langsung oleh abang senior kami sekaligus ketua pionir untuk pindah ke tenda bagian depan dan sebagian lainnya pindah ke tenda pionir. Namun ditenda pionir juga muncul genangan air. Situasi semakin panik saat kalajengking merangkak ke dalam tenda. Abang-abang dan kakak-kakak berusaha untuk menenagkan kami. Tak lama berselang kami diinstruksikan lagi untuk berkumpul kemudian mengungsi.
Dalam gelap, hujan, dan badai, kami berjalan,, sebagian dari kami banyak yang tak menggunakan alas kaki. Barang-barang kami yang masih di tenda diselamatkan oleh abang-abang dan cowok-cowok kami. Sementara itu kami berjalan bergandengan, mendaki menuju pemukiman warga. Gelap, dingin, barangkali kami tak pernah membayangkan akan berada di situasi serumit itu. Beberapa senior dan teman cowok kami mengiringi kami berjalan. Kami juga tak mungkin akan lupa moment pada malam itu. Kami tak akan lupa bahwa malam itu kami ditimpa musibah bersama. Dan abang-abang kami, lagi-lagi abang-abang kami, saat ada salah seorang dari kami yang pinsan saat di perjalanan gelap itu, merekalah yang menggendong dengan punggungnya sendiri. Mereka yang mendaki dengan terengah-engah sembari masih menginstruksikan kami untuk menyelamatkan diri.
Rumah warga tak akan mampu menampung kami yang berjumlah ribuan, bahkan untuk anak kimia saja yang berjumlah 250 an pun tak akan cukup. Abang-abang kami akhirnya mengumpulkan kami di sekolah. Mereka tak membawa kami mengungsi ke rumah-rumah penduduk karena tidak ingin kami berpencar-pencar. Saat itu wajah-wajah kami pucat, sebagian besar dari kami menggigil kedinginan. Banyak juga yang pinsan. Situasi benar-benar panik. Namun di balik itu semua, muncul perasaan bangga sebagai mahasiswa kimia. Bagaimana tidak, berada di lingkungan kimia membuat kami merasa terlindungi. Senior-senior kami sangat bertanggung jawab atas kami. Saat bapak wakil dekan tiga menginstruksikan kami pindah ke mushola-mushola dan pesantren, senior kami tak langsung membiarkan kami mengikuti instruksi. Mereka terlebih dahulu memastikan apakah tempat itu bisa menampung kami semuanya atau tidak. Saat diketahui bahwa tempat-tempat tersebut mengharuskan kami untuk berpencar-pencar maka mereka tak mengizinkan kami untuk mengungsi kesana. Mereka justru meminta kunci ke penjaga sekolah dan menyuruh kami beristirahat di ruangan kelas malam itu. Malam itu kami juga diberi minuman, dan makanan. Berulang-ulang kali mereka menanyakan apakah kami baik-baik saja? Apakah ada yang merasa sakit? Apakah ada yang pusing, masuk angin, dan sebagainya?

Minggu, 26 November 2017
            Suasana pada dini hari itu amat tidak karuan. Abang-abang dan cowok-cowok kami yang tidur diluar menggigil kedinginan. Ada yang telah berganti pakaian dengan pakaian yang diberikan warga, ada juga yang mengganti celana basah dengan kain sarung. Saat ada dari kami yang terbangun ingin buang air, merasa pusing, menggigil, dan sebagainya mereka-mereka jualah yang turun tangan membantu kami. Mereka mengabaikan diri mereka sendiri yang justru lebih butuh istirahat dan lebih tidak sehat daripada kami. Mereka adalah orang-orang tangguh. Pahlawan-pahlawan pasca kemerdekaan. Itulah yang membuat kami semakin bangga menjadi mahasiswa kimia UNP.
            Saat hari telah pagi, kami bergantian untuk numpang buang air dan sholat subuh ke rumah warga sekitar. Setelah itu kami dikumpulkan lagi di halaman sekolah dasar tersebut. Jumlah kami dihitung dan kami diabsen satu per satu untuk mengetahui apakah ada yang hilang dari kami atau tidak. Pagi itu kami juga diberi teh panas dan roti serta susu. Kami dilarang untuk kembali ke lokasi perkemahan karena lokasi sudah tidak aman lagi dan kegiatan sepertinya juga tak ada yang bisa dilanjutkan. Kami tetap berkumpul di SD tersebut sembari menunggu bus yang akan mengantarkan kami pulang.
            Dalam gerimis hujan cowok-cowok kimia baik senior maupun junior kembali bergegas mengangkat barang. Dari lokasi kemah menuju bus mereka bawa dengan motor, setelah itu mereka angkat bersama-sama ke dalam bus. Terlebih dahulu mereka memastikan bahwa kami semua telah lengkap, barulah mereka mempersilahkan kami untuk menaiki bus.
            Sedikit cek cok terjadi. Amarah senior kami seolah dipancing untuk keluar. Bagaimana tidak, bus yang seharusnya kami tempati justru diisi oleh jurusan lain. Hal itulah yang membuat sebagian besar dari kami tak bisa segera kembali ke Padang. Ada sebagian yang bisa kembali siang hari sementara selebihnya harus menunggu bus yang kami tumpangi itu balik lagi. Sehingga banyak dari kami yang baru bisa kembali ke kampus saat hari sudah maghrib. Begitu sampai di kampus pun, kami tak langsung kembali ke kos. Kami dikumpulkan lagi dan dihitung kembali untuk memastikan tidak ada yang ketinggalan di lokasi kemah. Sebelum balik ke kos pun kami diberi makan malam terlebih dahulu. Sementara barang-barang kami dikumpulkan di hima. Baru bisa kami ambil esok harinya.



















Kami bangga jadi mahasiswa Kimia UNP.....
            Kami sangat bangga saat bisa menyebut kami sebagai mahasiswa kimia UNP. Kami bangga dengan warna orange kebanggaan kami. Bangga karena memiliki abang-abang yang rela berkorban banyak demi melindungi kami. Bangga dengan kakak-kakak yang penuh kasih. Kami pun bangga dengan cowok-cowok kimia yang tangguh. Kami juga bangga dengan teman-teman kami, para cewek-cewek yang bisa saling bantu dan bekerja sama.
            Kami sama sekali tak menyesal mengikuti KBM tahun ini. Kami sama sekali tak menyesal berhujan dan berpanas-panas selama tiga hari itu. Karena waktu yang tiga hari amat sangat berkesan bagi kami. Waktu yang tiga hari itulah yang pada akhirnya membuat kami mengerti apa itu sebenarnya ‘chemistry’.
            Juara, penghargaan, kalah, menang,, kami tak peduli lagi. Bagi kami Kimia tetap yang paling juara di hati kami.












Dari kami, adik-adik 17...
            Abang-abang dan kakak-kakak yang luar biasa..
            Mungkin ribuan ucapan terimakasih tak akan mampu mengganti semuanya. Ribuan kata maaf pun tak akan mampu menebus semuanya.
            Apa yang abang-abang dan kakak-kakak berikan tak bisa kami balas dengan apapun. Tak bisa kami ganti dengan apapun.
            Mungkin selama ini kami tidak mengerti apa sebenarnya maksud dari amarah, bentakan, dan instruksi yang abang-abang dan kakak-kakak berikan pada kami. Dan mungkin selama ini kami sering mendumel dalam hati saat kami sering dikumpulkan setelah penat mengikuti perkuliahan. Tapi waktu yang tiga hari ini telah menjelaskan semuanya pada kami.
            Kami mohon maaf pada abang-abang dan kakak-kakak semua atas semua kesalahan kami, baik yang hanya terbersit dalam pikiran maupun yang terlontar dalam ucapan apalagi yang kami wujudkan dalam bentuk perbuatan.
            Abang-abang dan kakak-kakak, terimakasih banyak.
            Terima kasih atas literan air keringat yang tercurah untuk kami. Terimakasih untuk derai tangis yang juga diperuntukkan pada kami. Terima kasih juga untuk setiap tutur kata penuh nasehat yang lagi-lagi tertuju pada kami.
            Chemistry family is the best!
            Sekarang kami mengerti itu.














Komentar

  1. No deposit bonus codes 2021 - DrMCD
    Check out the 안동 출장샵 No Deposit 용인 출장안마 Bonuses on top casinos to get the latest 포천 출장마사지 casino codes to claim your bonuses and no deposit bonus codes. 공주 출장안마 Best 강원도 출장안마 Casino Bonuses.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

me and my big boss

Tips Ampuh Lulus SNMPTN 2018

TENTANG AKU YANG TAK BISA MEMBAHASAKAN CINTA