Cerpen Teenlit "Serumit Kemelut Hati"
mungkin masih libur, jadi iseng nulis cerpen.. cerpen cinta gituuh.. Check it out!
Serumit
Kemelut Hati
Oleh:
Vira Nilmania
Siang itu adalah kali kedua mereka menghabiskan jam
istirahat bersama. Dewa sungguh tak bisa menghentikan bola matanya yang selalu
bergerak ke arah Dara. Gadis itu adalah kakak kelasnya, satu tingkat di
atasnya. Barangkali tidak sopan bila ia harus mengakui perasaannya. Tapi
sungguh, gadis itulah yang akhir-akhir ini sering menjelma di mimpinya. Yang
dipandangi pun tak kalah salah tingkah. Dara sudah menghabiskan minumannya, dan
sekarang ia mencomot sepotong donat di atas meja.
“Kamu ada masalah nggak dekat sama adik kelas?” Dewa buka
suara.
Dara menggeleng. “Teman nongkrongku juga kebanyakan adik
kelas.” Jawabnya enteng.
“Kalau pacaran sama adik kelas?” Dewa melontarkan tanda
tanya yang kedua. Dan kali ini ia berhasil membuat Dara kehilangan gerak. Gadis
itu memperbaiki posisi duduknya, berusaha untuk tetap bersikap tenang padahal
debar di jantungnya tak lagi bisa tertahan.
“Tergantung.” Ujar Dara. “Kalau adik kelasnya beda 10
tahun, masih SD, masih ingusan.. jelas itu masalah.”
Giliran Dewa yang salah tingkah. Ia tertawa kecil padahal
hatinya terasa menggigil. Jawaban Dara penuh sirat makna. Barangkali mudah bagi
Dewa untuk mengartikannya, namun untuk berujar lebih banyak tentang itu adalah
perkara yang sulit. Dara tau, keberadaaannya di kantin itu bersama Dewa telah
menjadikan mereka sebagai pusat perhatian. Banyak yang berbisik-bisik melihat
mereka, ada juga yang saling lirik penuh arti. Akan tetapi bagi Dara hal itu
tak mempan untuk membuatnya risih. Dewa memang adik kelasnya, namun apa boleh
buat, justru lelaki itulah yang membuatnya dijerat rindu dan cemburu semenjak
dua bulan belakangan.
Adalah Zahra, seorang gadis manis yang semenjak satu
tahun belakangan berstatus sebagai kekasih Dewa. Memang tak banyak yang tau
hubungan mereka. Selain keduanya sekolah di SMA yang berbeda, Dewa maupun Zahra
bukanlah tipe orang yang suka mengumbar hubungan mereka. Zahra pun hanya
menceritakan Dewa kepada orang-orang terdekatnya saja. Semenjak hubungan mereka
yang berjalan lebih dari satu tahun, tidak pernah ada pertengkaran yang hebat
antara mereka. Zahra mengenal Dewa sebagai lelaki yang humoris, suka bercerita
tentang apa saja yang dia alami. Namun semenjak dua bulan belakangan Zahra
justru mendapati Dewa sebagai lelaki yang lebih pendiam, sibuk dengan
ponselnya, dan suka meninggalkannya saat ngedate dengan alasan ini itu. Zahra
tak ingin berprasangka, namun apa yang ia rasa justru membuatnya semakin
khawatir. Sore itu, Zahra menyempatkan singgah ke rumah Kemala, temannya yang
bersekolah di SMA yang sama dengan Dewa.
“Eh, kamu, Ra. Masuk yuk!” sambut Kemala begitu Zahra
datang ke rumahnya.
“Angin apa nih yang membawa lo kesini? Setelah tamat SMP,
kayaknya baru kali ini deh lo mampir ke rumah gua.” Lanjut Kemala saat mereka
berdua sudah berada di kamar.
Zahra memandang Kemala sejenak, sahabatnya itu adalah
orang pertama yang tau bahwa Zahra dan Dewa pacaran. Kemala juga yang sempat
menjadik Mak Comblangnya ketika pedekate dengan Dewa dahulu. Zahra yakin,
Kemala adalah orang yang tepat. “Kamu masih sekelas nggak sama Dewa?” tanya
Zahra.
“Masih. Kenapa memangnya?” Kemala duduk di sebelah Zahra.
“Aku ngerasa akhir-akhir ini Dewa berubah. Dia lebih
pendiam. Dia kayak punya kesibukan baru.” Tutur Zahra.
Kemala mengusap pundak sahabatnya itu. “Mungkin itu Cuma perasaan
kamu saja.”
“Aku juga berharap seperti itu, Kemala. Namun aku
khawatir jika apa yang aku takutkan terjadi.” Mata gadis itu tampak
berkaca-kaca. “Apa dia sedang dekat dengan perempuan lain?”
Kemala tampak berfikir sejenak. “Hmmm, setauku tidak
ada.” Tiba-tiba ia teringat sesuatu. “Tapi... aku pernah melihatnya beberapa
kali bersama Kak Dara. Bukan beberapa kali, Ra. Akhir-akhir ini aku lebih
sering melihatnya bersama Kak Dara.” Jelas Kemala.
“Dara? Siapa dia?”
“Kak Dara itu kakak kelas kami, siswi kelas XII.
Seingatku mereka sempat ekschool bareng dulu. Mungkin karena itu mereka kenal
dan akrab. Tapi aku nggak bermaksud buat nuduh dia macam-macam lhow. Kalau kamu
nanya, Dewa lagi dekat sama cewek lain, menurut aku Kak Dara orangnya.” Kemala
menjelaskan.
Zahra bungkam, tak lagi bertanya. Ia merasakan
kerongkongannya pahit. Hatinya terasa getir penuh kekhawatiran. Kemala
merangkul Zahra. “Kamu jangan berprasangka aneh-aneh dulu. Siapa tau mereka
Cuma berteman biasa. Aku akan bantu cari tau tentang mereka berdua.” Ujar
Kemala berusaha untuk menenangkan sahabatnya itu. Zahra tersenyum, meski ia tak
sepenuhnya lega.
Di akhir pekan, Dewa menemani Zahra ke toko buku. Gadis
itu adalah penggila buku, apalagi novel. Dan ia selalu senang setiap kali
ditemani Dewa berburu buku. Namun kali ini, ia sama sekali tidak merasa
bahagia. Ia justru dirundung kekhawatiran dan kecurigaan. Sedari tadi Dewa
hanya asik dengan ponselnya, tersenyum-senyum sendiri dengan benda elektronik itu.
Zahra mengambil sebuah buku. “Dewa, menurut kamu novel
yang ini bagus nggak?” ia berusaha mengalihkan perhatian Dewa. “Bagus.” Jawab
Dewa tanpa melihat benda yang disodorkon Zahra. Zahra menelan ludah. Ada
bongkahan kata-kata yang menyumbat kerongkongannya dan betapa ingin ia
muntahkan segera. Namun digagalkan oleh dering telfon Dewa. Meski hanya melihat
sekilas, Zahra bisa membaca sebaris nama di layar itu. DARA. Mendadak Zahra
ingin memukul namun tak tau apa yang harus dipukul, ingin lari tetapi tak tau
kemana harus lari, ingin teriak tapi juga tidak tau dimana harus teriak. Hanya
airmata yang ia bisa tumpahkan saat melihat Dewa menjauh darinya untuk
mengangkat panggilan itu. Airmata yang isyaratkan bagaimana kepiluan hatinya.
*
Dara belum sempat mengganti seragamnya saat kakaknya
memberi tahu bahwa ada seorang teman yang mencarinya. Dara bergegas untuk
menemui tamunya itu. Ia menemukan seorang cewek manis, berusia sekitar satu
tahun lebih muda darinya. Namun seingatnya, ia belum pernah melihat wajah itu.
“Benar ini rumahnya Dara?” tanya gadis itu.
“Ya, benar. Saya Dara.” Jawab Dara.
Gadis itu lalu mengulurkan tangannya, sembari menyebutkan
namanya. “Zahra.” Dara menjabat tangan itu sembari tersenyum. Ia sendiri masih
bertanya-tanya siapa gadis ini sebenarnya, apakah pernah bertemu sebelumnya,
dan apa maksud kedatangannya. Dara mempersilakan tamunya itu duduk.
“Hmmm, ada apa ya? Kita pernah ketemu sebelumnya? Sorry
kalau saya lupa, soalnya saya emang sedikit pelupa. He-he.” Ujar Dara.
Zahra tersenyum kecil. “Kita emang belum pernah ketemu
kok. Saya... saya pacarnya Dewa.” Balas Zahra lugas.
“Hah?” Dara sungguhan bengong mendengar penuturan itu.
Antara kaget dan tidak percaya. Namun ada sesuatu yang terasa menimpuk hatinya.
Sakit sekali.
“Maaf kalau saya nggak sopan. Saya ketemu kamu Cuma buat
memastikan bahwa kamu tidak ada hubungan apa-apa dengan Dewa.” Ujar Zahra lagi.
Berat bagi Dara untuk berkata-kata saat itu. Tapi ia
tidak mungkin bungkam saja. Ia berusaha tersenyum. Getir. “Saya nggak ada hubungan
apa-apa dengan Dewa. Dia Cuma adik kelas saya, dan saya kakak kelasnya. Maaf
kalau saya sudah bikin kamu salah paham.” Dara menggigit bibirnya sendiri,
berusaha menahan rasa sakit yang terasa mengoyak batinnya.
“Makasih ya.” Zahra tersenyum. “Sekali lagi maaf jika
kedatangan saya mengganggu.” Usai berujar demikian Zahra meninggalkan halaman
rumah Dara. Sementara Dara berlari memasuki kamarnya, bahkan sebelum Zahra
benar-benar menghilang dari pandangannya.
*
Dewa adalah orang yang sangat ia hindari di sekolah.
Namun area sekolah yang tidak terlalu luas tetap memungkinkan mereka untuk
bertemu. Sekalipun Dara menghindar, Dewa pun akan tetap mencarinya. “Weekend
kemarin aku ke toko buku. Tiba-tiba aku ingat kamu, jadi aku beliin ini.” Dewa
menyodorkan sebuah buku bersampul merah jambu. Sebuah Novel cinta yang juga
dicari Zahra waktu itu. Dara memandangi buku itu cukup lama sebelum akhirnya
berkata, “Aku nggak suka novel.” Jawab Dara pendek.
“Nggak suka kan karna nggak pernah baca.” Dewa meletakkan
buku itu di tangan Dara. Wajahnya terlihat bahagia sekali, berbeda dengan wajah
Dara yang tampak tak bercahaya seperti biasanya. “Thanks.” Ujar Dara, lagi-lagi
singkat seperti enggan untuk bicara.
“Ra..”
“Ya..”
Dewa tampak menyusun kata-kata. “Hmm, pernah nggak kamu
menilai sesuatu sebagai sesuatu yang tepat, Lalu beberapa waktu kemudian kamu
menemukan sesuatu yang baru yang lebih tepat?”
“Maksudnya?”
“Aku pernah menilai sesuatu sebagai sesuatu yang paling
tepat. Tapi setelah itu aku menemukan sesuatu baru yang lebih tepat. Berarti
sesuatu yang pertama itu belum tepat, kan?”
Meski diutarakan dengan ritme yang berbelit-belit Dara
tetap dapat mengartikan kemana arah omongan Dewa. Namun ia tidak bisa menjawab
tanya itu. tidak tau harus memberi jawaban apa. Dara menghembuskan nafasnya.
“Berarti tujuan kamu hidup Cuma buat nyari sesuatu yang paling tepat? Miris
sekali..” balas Dara, namun temponya sangat pelan seperti menggumam. Dewa
mengerutkan dahi. Dara memandangi kedua bola mata laki-laki itu seperti mencari
kepastian atau memberi kepastian. “Jangan sesekali kamu meninggalkan sesuatu
yang pernah ada hanya karna kamu menemukan sesuatu yang baru. Karna rasa sayang
yang datang saat kamu tak lagi memiliki, rasanya akan sakit sekali.” Tutur Dara
terdengar tegas.
Dewa bungkam. Ia sendiri kewalahan dengan dilema yang
kini membelenggunya. Bagaimana bisa ia jatuh hati lagi saat hatinya sudah ia
beri untuk hal lain. Namun itulah yang terjadi padanya kini. Dan bagaimana
caranya ia bisa menjelaskan hal itu pada Dara maupun Zahra.
“Kemarin ada seseorang yang datang padaku. Namanya
Zahra.” Ujar Dara setelah beberapa detik hening. Dewa kontan terbelalak.
“Zahra? Apa yang dia lakukan? Dia menyakitimu?” tanya
Dewa, sungguhan panik.
Dara menggeleng. “Dia sama sekali tidak menyakitiku. Tapi
aku sendiri yang merasa tersakiti.” Dara menelan ludahnya yang terasa semakin
pahit. “Saat dia bilang dia adalah pacarmu, aku tau dia tidak mungkin
berbohong. Tapi akulah yang tidak bisa mempercayainya.” Dara memejamkan
matanya, tak sanggup lagi jika harus melanjutkan kata-katanya. Dewa pun tak
bersuara. Lelaki itu tidak menemukan kata yang tepat yang bisa ia ungkap saat
itu.
“Kenapa kamu nggak pernah cerita sih? Kalau aku tau dari
awal, aku pasti...”
“Kamu pasti akan menjauhiku, kan?” Dewa memotong
kata-kata Dara.
Mata gadis itu tampak berkaca-kaca. Lalu ia mengangguk.
“Iya.” Jawabnya dengan suara serak. “Aku mungkin akan menjauhimu. Tapi itu akan
jauh lebih baik. Kalau sudah seperti ini, semuanya sudah semakin rumit. Kamu
mempersulit posisiku.” Ujar Dara.
“Aku selalu nyari waktu yang tepat buat bicara semuanya
sama kamu..”
“Tapi kamu nggak pernah ketemu waktu yang tepat itu kan?”
tukas Dara.
Dewa menelan ludah. “Ra, bagaimana perasaan kamu yang
sebenarnya sama aku?” balas Dewa. Dara tersenyum getir, seolah pertanyaan yang
satu itu tak perlu untuk diutarakan. “Aku butuh jawaban kamu agar aku bisa
membuat keputusan, sekarang juga.” Tegas Dewa.
“Keputusan apa? Keputusan untuk meninggalkan Zahra lalu
memilih aku?” Nada suara gadis itu mulai tinggi, bongkahan dihatinya sudah
mendesak untuk dimuntahkan. “Bukan itu yang aku inginkan. Tapi, kamu,,, sebagai
seorang laki-laki harusnya bisa bertanggung jawab. Bagaimana kamu bisa
bertanggung jawab dengan perasaan aku, jika perasaan kamu sendiri berantakan,
nggak bisa kamu rapiin.”
Dewa mengusap dahinya, tak menyangka bahwa kemelut ini
akan serumit ini. “Aku jatuh cinta sama kamu, dan itu nggak aku rencanain
sebelumnya. Apa aku salah?” ujar Dewa, terbawa emosi. “Dengerin aku, ra. Beri
aku waktu, dan aku akan menyelesaikan semuanya. Aku akan membereskan
permasalahanku dengan Zahra, dan setelah itu aku akan kembali buat kamu.” Dewa
berusaha meyakinkan.
Dara menghapus airmatanya. “Aku nggak perlu ngasih kamu
waktu. Semua waktumu adalah milikmu. Kita bertanggung jawab dengan masalah
masing-masing. Masalahmu dengan Zahra harus kamu selesaikan, dan masalahku
dengan hatiku, biar aku selesaikan sendiri.” tegas Dara lalu beralih dari
hadapan Dewa. Berniat untuk lari sejauh-jauhnya dari lelaki itu dan berniat
mengubur segala yang pernah ada. Meski Dara tau, menyelesaikan permasalahan
hati tidaklah semudah jatuh hati.
Di tempatnya berdiri, Dewa tidak bisa berbuat apa-apa
untuk menahan langkah Dara. Ia sendiri pun merasa terjebak dengan belenggu yang
ia ciptakan sendiri. Dewa terlihat mengusap dahinya untuk yang kesekian
kalinya.
*
Dewa muncul di depan gerbang sekolah Zahra siang itu.
Zahra memandanginya dengan seribu tanya. Dan sampai Dewa berada dihadapannya,
tak satupun tanya yang bisa Zahra lontarkan. Ia hanya menunggu Dewa untuk
bicara terlebih dahulu.
“Ra, aku minta maaf.” Demikianlah kalimat pertama yang
diungkap Dewa. Hati Zahra berdesir, harap-harap cemas menunggu kata
selanjutnya. Namun mata gadis itu tampak berkaca-kaca, tapi bukanlah tangis.
“Aku nggak bisa lanjut sama kamu.” Dewa meneruskan
kata-katanya. Seketika air yang tadi hanya membias di mata Zahra menetes lurus
pipinya. Kali ini sungguhan tangis.
“Karena Dara?” berat Zahra menyebut satu nama itu. “Kamu
meninggalkan aku karena seseorang bernama Dara itu?”
“Bukan karena siapa-siapa, Ra. Hanya karena hatiku yang
tak lagi tertuju padamu.” Balas Dewa, berusaha untuk memilih kata-kata yang
tepat.
“Semua ini karena Dara. Hati kamu berpaling karena cewek
itu. Dan kamu lupa, bahwa hati aku nggak pernah sedikitpun berpaling darimu.
Cinta kamu pada cewek itu hanya cinta sesaat. Kamu ditipu oleh perasaanmu
sendiri.” ujar Zahra. Airmatanya jatuh satu-satu.
Dewa meletakkan jemarinya di bahu Zahra, mencoba memberi
kekuatan pada gadis itu. “Kamu adalah sesuatu yang terbaik buat aku. Tapi aku
bukanlah sesuatu yang baik buat kamu. Kamu tetap bisa hidup bahagia tanpa aku,
Ra. Kamu bisa jatuh cinta lagi seperti aku yang bisa berpaling hati. Maafin
aku, Ra.”
Isak Zahra semakin keras. Kata-kata Dewa bagaikan anak
panah yang berjatuhan menimpa hatinya. Dewa membalikkan badan, pergi dari
hadapannya, pergi tanpa memberi harapan untuk kembali, dan mungkin tak kan
pernah kembali. Hati gadis itu terasa remuk, hancur, seperti kepingan kaca yang
akan memberi luka pada siapapun yang menyentuhnya. Apa yang selama ini ia
perjuangan, ia pertahankan, justru menyiksanya dengan puing reruntuhan. Tak ada
yang bisa mengendalikan hati. Tak juga ia, Dewa, maupun Dara. Hati bisa jatuh
kapan saja, bisa berpindah kapan saja, dan bisa bertingkah semena-mena tanpa
permisi pada pemiliknya.
Meskipun Dewa dan Zahra telah berakhir, Dara tidak akan
membuka hatinya untuk laki-laki itu lagi. Tidak untuk yang kedua kali. Tidak
akan menjadikan dirinya sebagai pelarian, tidak akan mengibarkan cintanya di
atas puing reruntuhan hati yang lain. Ia mungkin tak bisa melupakan Dewa dalam
sekejap mata. Namun ia juga tidak bisa bermimpi untuk memiliki hati itu lagi.
Ia hanya bisa menangisi hatinya, dan menangis buat hati Zahra yang hancur
karenanya.
Barangkali tak bisa menjadikan Dewa sebagai satu-satunya
terdakwa. Ia pun terbelenggu oleh batinnya sendiri. Jatuh cinta pada Zahra tak
pernah direncanakannya, dan jatuh cinta pada Dara juga diluar kehendaknya. Sesuatu
yang tepat itu tidak pernah ia temukan. Termasuk keputusannya. Pada akhirnya ia
harus menerima, bahwa ia telah kehilangan Zahra tanpa bisa memiliki Dara.
***
Komentar
Posting Komentar