Cerpen "CANDY"
Saya pernah nulis cerpen waktu SMA, judulnya "Love of Friendship". ceritanya tentang anak SMA dan terinspirasi dari cerita salah seorang guru saya waktu SMA. Cerpen itu saya tulis di buku tulis biasa, bersama serial kumpulan cerpen saya lainnya waktu SMA. dan beberapa minggu yang lalu saya iseng baca cerpen itu lagi. saya ketawa-ketawa sendiri dengan kisahnya, termasuk menertawakan tulisan saya pada waktu itu yang menurut saya sangat berantakan. tapi, satu hal yang saya akui dari cerpen tersebut, kisahnya terasa lebih hidup daripada serial saya yang lainnya. jadi saya seperti dapat ilham untuk membuat cerpen baru yang kisahnya berkaitan dengan cerpen tersebut. bisa dibilang kelanjutannya, namun dengan sajian yang berbeda dan sudut pandang yang berbeda. maka jadilah cerpen "CANDY" ini.
Bagi yang sudah baca cerpen saya yang berjudul "Love of friendship" itu, mungkin akan paham sekali dengan cerpen "CANDY" ini. tapi bagi yang belum baca, akan tetap bisa menikmati cerpen ini kok. nanti kalau lagi dapat ilham, saya share juga deh cerpen "Love of Friendship".
Selamat membaca. Dan semoga suka!
CANDY
Oleh:
Vira Nilmania
Angin yang berhembus pagi ini terasa berbeda, menyejukkan
sekaligus menggetirkan. Tiap sepoiannya membawa bulir-bulir kerinduan. Tiap
tiupannya berisikan bisik-bisik kehilangan. Aku mengedarkan pandang, menatap
kembali gedung tua yang sudah tujuh tahun kutinggalkan. Aku sungguhan melihat
bayangku disana, bersama orang-orang berseragam putih abu-abu itu. Ditengah
lapangan, bendera merah putih menari dalam kibarannya, seolah menyambutku
kembali atau justru menertawakan keberadaanku disini. Mendadak aku merasa
tengah dihujani peluru-peluru kerinduan. Rindu berlari disekeliling lapangan
ini karena tidak mengikuti upacara senin pagi. Rindu hormat bendera setengah
hari saat tidak sengaja memecahkan kaca jendela. Rindu melompat lewat pagar
belakang untuk menghindari pelajaran matematika. Rindu dengan segala kegilaan
itu. Rinduku terlebih lagi pada orang yang menemaniku dalam kegilaan itu.
Hatiku berubah pilu. Dimana ia sekarang? Mengapa menghilang?
“Bapak Azka Agler Pranaja?” seseorang berkemeja abu-abu
berdiri di sebelahku. Lelaki itu berusia sekitar 40 tahun, tubuhnya tegap dan
air mukanya ramah.
“Saya Akhyar, guru bahasa inggris sekaligus wakil
kesiswaan disini.” Pria itu memperkenalkan dia. Aku menjabat tangannya yang ia
sodorkan sembari tersenyum seramah mungkin. “Saya pribadi sangat senang dengan
kehadiran Pak Azka disini. Kami memang membutuhkan guru kesenian, soalnya guru
kesenian yang biasanya mengajar sudah pensiun beberapa bulan yang lalu.
Dengar-dengan Pak Azka juga punya sanggar seni ya?”
“Iya, pak. Sebenarnya sanggar seni itu berasal dari
komunitas seni saya dengan teman-teman waktu kuliah dulu.” Jelasku.
“Wah, bagus sekali itu, pak. Saya juga berharap sekali dengan
kehadiran bapak disini, ekschool kesenian di sekolah kita dapat aktif kembali.
Anak-anak pasti akan sangat bersemangat sekali, pak.”
“Tentu, Pak. Saya juga sudah mencari beberapa kompetisi
seputar kesenian yang bisa diikuti oleh siswa kita nantinya. Nanti akan saya
sosialisasikan ke siswa.” Balasku. Pak Akhyar pun mengangguk-angguk. Lalu ia
permisi karena sudah waktunya untuk mengajar.
Mengajar di sekolah sendiri menjadi kebanggaan tersendiri
bagiku. Orang-orang belasan tahun yang kuhadapi setiap hari selalu
mengingatkanku dengan masa remajaku. Mengingatkanku dengan Azka yang dulu, Azka
yang berandal dan tidak patuh aturan. Siapa juga yang akan menyangka seorang
siswa nakal langganan peringkat terakhir akan menjadi seorang pengajar. Aku
sendiri pun tidak pernah berani membayangkan akan menyandang titel guru.
Minggu pertama mengajar di sekolah tersebut benar-benar
membuatku sibuk. Aku harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baruku. Suatu
siang, berhubung tidak ada jadwal mengajar, aku menyempatkan diri untuk
berjalan ke gang belakang sekolah sekedar melihat-lihat kembali lingkungan
disana sembari mencari makan siang. Aku sengaja berjalan kaki agar lebih
menikmati nostalgia dalam kesendirian itu. Sudah banyak yang berubah di
lingkungan itu. Dahulu hanya ada satu warung makan di gang sini, selebihnya
adalah kebun pisang. Sekitar 500 meter dari warung makan itu baru ada
rumah-rumah penduduk. Aku hafal betul, kebun pisang itu sering dijadikan tempat
persembunyian bagi siswa-siswa yang sedang merokok. Tapi sekarang, kebun pisang
itu lenyap digantikan oleh rumah-rumah penduduk yang dibangun berdekatan.
Bahkan diperempatan jalan sana ada pasar tradisonal. Udara disini pun terasa
lebih gersang dan penuh sesak serta berisik.
“Copet..! copet..!” sekerumunan warga berlari ke arahku.
Tidak jauh dari kerumunan warga itu, seorang perempuan muda berlari sambil
memboyong sebuah tas. Aku tersentak melihat paras gadis itu. seraut wajah yang
amat kukenal dan kuhafal. Spontan, aku menarik tangannya dan membawanya
bersembunyi di belakang sebuah truk yang tidak jauh dari tempat semula aku
berdiri. Baru sekali ini aku menyelamatkan seorang pencopet. Sungguh kesalahan
besar.
Gadis itu mengatur nafasnya yang terengah-engah. Aku
memandanginya dengan seksama. Aku tak mungkin salah mengenali wajah itu.
“candy...” ujarku dengan seutas senyum yang mengembang di sudut bibir.
Gadis itu menoleh dan mendadak bungkam. Bola matanya
membesar tapi bukan melotot, tidak lama kemudian senyumnya mengembang.
“Azka..?” nada suaranya seperti bertanya, seolah tidak percaya dengan apa yang
ia lihat. “Ini beneran lo? Sumpah, gua kangen banget sama lo.” Serunya sambil
menepuk-nepuk pipiku dan memukul-mukul pundakku. “Lo apa kabar? Gila! Kok jadi
rapi gini sih? Kesambet jin apa lo?” Lalu pandangannya beralih ke sebuah name tag yang tersemat di dadaku. “S.Pd?
lo jadi guru sekarang?”
Aku tertawa menanggapi rentetan ucapannya. Sungguh,
dahagaku terasa terbayarkan saat melihat paras itu. “Kenapa? Aneh ya ngelihat
saya dengan format kayak gini?”
“Banget. Lo bukan Azka yang gua kenal. Dan sekarang
ngomongnya pake saya-kamu. Pengen
ketawa gua dengarnya. Sumpah.”
“Kamu nggak kenal teori evolusi Darwin ya? Perubahan itu
sungguh ada di muka bumi ini. Justru menurut saya, kamu yang aneh. Masa nggak
ada perubahan. Tujuh tahun yang lalu berantakan, sekarang juga berantakan. Dan
lebih parahnya lagi, kamu nyopet. Bikin saya malu aja.” Balasku.
“Rese.” Desisnya.
Aku tertawa kecil sembari mengacak-ngacak kepalanya yang
tertutup topi hitam bergambar tengkorak. “Saya kangen banget sama kamu. Pindah
tempat yuk. Kebetulan saya lagi lapar. Kamu tau tempat makan yang enak nggak?”
“Tau dong. Dan kali ini biar gua yang nraktir. Soalnya
gua baru dapat rejeki.” Ujarnya sembari menunjukkan sebuah tas yang sedari tadi
digenggamnya erat.
“Gila! Jadi saya bakal ditraktir pakai uang hasil curian?”
“Sok suci lo. Makan tetap bikin kenyang walaupun lo bayar
pakai uang haram atau halal. Nggak ada ngaruhnya.” Tegas Candy. Aku tertawa
lagi melihat tingkah sahabat lamaku itu.
Tak lama berselang, aku dan Candy sudah berada di sebuah
warung makan, berhadapan dengan sepiring nasi dan lauk yang membumbung di
piring masing-masing serta dua gelas es teh manis. Candy yang memesan format
makanan seperti itu. Dan kini ia tengah makan dengan lahap, sudah menghabiskan
setengah porsi.
Dengan mulut terisi penuh, ia berkata, “Lo manusia paling
ajaib yang pernah gua kenal. Bertahun-tahun nggak ada kabar, tiba-tiba aja lo
nongol sebagai seorang guru. Gua masih nggak bisa percaya.”
“Bukan saya yang nggak ada kabar, tapi kamu yang
menghilang dari peradaban. Dan kamu juga harus tau, saya seperti ini juga
gara-gara kamu. Karena kamu lenyap tanpa jejak, saya jadi nggak punya patner
buat gila-gilaan. Jadi, saya nurut sama orangtua buat ngelanjutin kuliah,
sampai akhirnya saya jadi guru sperti sekarang.” Balasku.
“Segitu berpengaruhnya ya gua dalam hidup lo?”
“Banget.” Jawabku singkat dan pasti. Tidak kusangka ia
terkesiap lalu meneguk es teh manisnya agar kikuknya tersamarkan.
Jika diamati sepintas, Tak banyak yang berubah dari
Candy. Rambutnya selalu sebahu dan selalu ia kucir satu lalu ia tutup lagi
dengan topi. Ia suka mengenakan baju kaos hitam dengan kombinasi celana jeans
robek-robek. Tetapi, jika kuamati lebih dalam lagi, tampaklah perbedaan yang
mencolok dari dirinya. Tubuhnya jauh lebih kurus dari tujuh tahun yang lalu.
kulitnya berubah gelap dan kusam. Matanya cekung dan sorot matanya hampa.
“Kamu kemana aja selama ini, can?” akhirnya satu tanya
itu terlontar juga dari bibirku, tanya yang sedari tadi bergelayut di benakku.
“Hmmm,,, gua mengembara.” Jawabnya asal.
“Kenapa nggak pernah ngasih kabar? Mungkin ada ratusan
pesan saya yang nggak kamu balas. Kirana dan Olive juga udah nyariin kamu
sampai ke rumah. Tapi kamu nggak ada. Bahkan Reyhan sempat sedih banget karena
kamu nggak ikutan ngantar dia ke bandara sewaktu dia mau kuliah di Jepang.”
“Reyhan kuliah di Jepang?”
“Iya. Dan sekarang dia bekerja pada sebuah perusahaan
besar di Singapore.”
“Gila! Sukses banget tuh anak sekarang. Trus, Olive,
Kiran, Habil,, gimana kabar mereka?” tanya Candy lagi. Matanya tampak
berbinar-binar.
“Saya hilang kontak dengan Olive. Terakhir yang saya
dengar, Olive menikah tiga tahun yang lalu. Kalau Kiran, dia jadi dosen
sekarang dan sudah tunangan juga. Mungkin sebentar lagi juga akan menikah.
Sementara Habil bekerja di Bank Swasta semenjak tamat kuliah.” Jelasku.
“Jadi kangen gua.” Gumam Candy, kali ini matanya
sungguhan berkaca-kaca.
“Kamu belum menjawab pertanyaan saya, Can. Kamu dimana
selama ini? Kenapa menghilang dari kita semua?”
Dia tampak menghela nafas, lalu menghembuskannya berat.
“Hidup gua nggak seberuntung kalian.” Ia berkata lirih. “Sehari setelah acara
perpisahan SMA, gua berantem sama bokap. Lo kan tau, dari dulu gua selalu salah
di mata bokap. Bagi dia, gua ini Cuma seorang anak yang nyusahin, yang bisanya
Cuma bikin malu keluarga. Bokap nggak terima dengan hasil ujian gua yang hancur
itu. Setelah itu gua pergi dari rumah. Gua tinggal di jalanan, pindah dari satu
kota ke kota lain, kerja serabutan. Persis kayak gembel.” Ia tersenyum getir,
pilu membayangkan nasibnya kala itu. “Dua tahun yang lalu gua dapat kabar kalau
bokap gua sakit keras. Karena itu gua balik lagi ke rumah.”
“Gimana keadaan bokap sekarang?” tanyaku turut prihatin
dengan cerita Candy.
“Masih sakit-sakitan. Tahun lalu sempat dirawat di rumah
sakit. Tapi karena kehabisan biaya, sekarang bokap Cuma istirahat aja di
rumah.” Candy tampak bergegas menyusut sesuatu di sudut matanya.
Aku menepuk pundaknya, berusaha menguatkan. Nafasku turut
terasa berat. “Tapi kenapa harus nyopet sih, Can? Apa nggak ada pekerjaan
lain?”
“Gua anak sulung, Ka. Adik gua tiga orang, dan masih pada
sekolah. Ibu gua emang punya warung kecil-kecilan di rumah, tapi itu Cuma cukup
buat pengobatan bapak dan biaya makan sehari-hari. Semua beban keluarga ada di
pundak gua.” Tutur Candy semakin pahit. “Lagian, nggak ada yang mau ngasih gua
kerjaan. Siapa juga yang mau mempekerjakan seorang tamatan SMA yang nilainya
paling anjlok? Dan nggak ada juga yang mau mempekerjakan cewek preman kayak
gua.”
“Itu artinya kamu harus memperbaiki sikap kamu dulu.
Mungkin udah saatnya juga kamu pensiun dari berandal. Kamu udah dewasa, Can.
Udah saatnya kamu memikirkan masa depan.”
“Lama-lama lo jadi mirip nyokap gua, suka ceramah. Persis
banget tuh ceramahnya kayak gitu.” Balas candy.
“Saya punya sanggar. Kami sering diundang untuk tampil
diacara-acara pertunjukan. Kalau kamu mau, kamu boleh gabung sama saya.” Aku
menawarkan.
“Ada-ada aja lo. Gua kan nggak punya bakat seni.”
Aku tertawa. “Siapa juga yang bakal nyuruh kamu ikut
pertunjukan. Saya ngajak kamu gabung biar nanti ada yang bantuin saya ngangkat
properti kalau nanti kami mau manggung.”
“Rese. Lo pikir gua kuli panggul apa.” Dia cemberut.
Namun beberapa detik berselang, “Tapi boleh deh. Ntar gua pikir-pikir lagi.”
Aku tertawa kecil dengan tingkahnya.
“Ngomong-ngomong, pacar lo siapa sekarang? Atau
jangan-jangan lo udah nikah ya?” tudingnya kemudian.
“Gimana mungkin saya udah nikah, saya ketemu kamu aja
baru sekarang.” Jawabku asal.
Ia terbelalak, tapi bukan melotot. Bibirnya terbuka
lebar. “PD amat sih gua bakalan nikah sama elo.”
Aku tertawa. “Soalnya dari dulu kan Cuma kamu patner
saya, Can. Dan kayaknya kamu juga nggak punya patner lain selain saya.”
“Eh, jangan salah. Lo lupa ya, gua kan pernah pacaran.”
“Emang bener. Tapi kan kalian udah putus. Saya yakin,
waktu itu kamu putus sama Kak Razi karena kamu sebenarnya memendam perasaan ke
saya, kan?” godaku.
“Nggak, kok. GR amat lo.” Sanggahnya. “Dengar ya, Azka.
Kalaupun di dunia Cuma lo satu-satunya cowok yang tersisa, gua bakalan tetap
mikir 1001 kali buat mau nikah sama lo.”
“Kok saya nggak yakin ya?” aku terus menggoda. Ia
sungguhan geram sampai-sampai memukul kepalaku dengan sendok. Aku tertawa puas.
Lalu Candy membuka tas hasil curiannya. Ia mendapati sebuah sapu tangan dekil
dan sebuah dompet yang sudah kumal. Candy membuka dompet tersebut. “Apaan nih.
Cuma lima ribu.” Sungutnya. “Batal deh gua nraktir lo.” Lanjutnya.
“Yeah, payah. Nyopet aja goblok. Makanya kamu berhenti
aja jadi copet. Udah capek-capek lari dikejar-kejar warga, hasilnya cuma lima
ribu.”
“Iya. Iya. Bawel lo. Buruan bayar.”
Siang itu terasa amat berkesan. Aku menemukan kembali apa
yang selama ini hilang. Ia telah kembali, kembali menoreh warna di hidupku.
Semenjak hari itu, aku dan Candy rutin bertemu untuk sekedar jalan-jalan dan
makan siang atau ikut bantu-bantu mempersiapkan pertunjukan. Kulihat, sorot
hampa di mata Candy mulai hilang. Pandangannya kini terisi. Senyumnya tampak
hadir lagi. Ia seperti menemukan harapan baru, harapan yang selama ini sudah
terlalu jauh meninggalkannya.
Candy adalah seorang pekerja keras. Ia selalu datang
tepat waktu saat aku beritahu kami akan manggung di suatu acara. Dengan tekun,
dia akan bekerja sesuai instruksi yang kuberikan. Tenaganya memang jauh lebih
kuat dari perempuan kebanyakan. Candy mampu mengangkat beban puluhan kilo
seperti laki-laki pada umumnya, piawai memanjat tempat-tempat yang tinggi, dan
tidak takut saat harus berdiri di atas loteng.
“Lo ketemu Candy dimana?” tanya Anton, salah seorang
rekanku di sanggar.
“Sahabat lama saya. Kenal dari SMA.” Jawabku.
“Menurut gua, Candy sangat tangguh untuk ukuran cewek.
Dia bisa lhow manjat tiang itu buat masang lampu. Salut gua. Orangnya juga asik
dan friendly banget.”
“I know that.” Balasku sembari tersenyum. Kini Candy
masih berdiri di atas loteng, membantu Andi yang yang tengah memasang spanduk.
“Lo naksir ya sama dia?” tanya Anton lagi, tanya itu
spontan membuat mataku bergerak ke arahnya. Aku tak menjawab, bukan tak punya
jawaban. Tapi sungguhan tak tau harus memberi jawaban apa. Pertanyaan Anton
tersebut juga memancingku untuk mempertanyakan perasaanku sendiri. Yang kutau
selama ini, aku menyayangi Candy. Aku rindu saat dia jauh. Tentu saja hal itu
kurasakan karena dia sahabat dekatku dan begitu banyak hal yang pernah kami
lakukan bersama. Namun, untuk mengartikan perasaan itu sebagai rasa cinta yang
berbeda,,, entah kenapa, setelah kami dewasa, aku merasa perlu untuk menelaah
perasaanku lagi. Rasa apa yang sebenarnya kumiliki padanya, sebatas rasa sayang
pada seorang teman lama, atau justru rasa sayang yang lebih dari itu?
Anton tersenyum sendiri menanggapi kebungkamanku. Lalu ia
berseru pada Candy, “Can, makan dulu! Udah gua beliin nasi bungkus tuh.”
“Ok! Gua terjun sekarang.” Sahutnya.
Tentunya Candy tak sungguhan melompat dari atas loteng
untuk mencapai tanah. Ia menggunakan tangga yang sedari tadi bersandar di pojok
kanan. Pelipisnya dibanjiri keringat. Namun raut wajahnya sama sekali tidak
menunjukkan rasa lelah. “Pak Bos, gua nggak bisa ikut entar malam ya. Soalnya
gua harus bawa bapak check up ke rumah
sakit.” Ujarnya padaku. Entah atas dasar apa ia memanggilku dengan
sebutan itu.
“Iya. Nggak apa-apa kok. Lagian nggak baik cewek keluar
malam. Tapi besok datang ya, soalnya banyak yang harus kita persiapin menjelang
hari H.” Balasku sembari duduk di sebelahnya.
“So pasti gua datang. Gua kan nggak ada kerjaan lain.”
Aku tertawa kecil, “Saya senang kamu udah pensiun jadi
copet.”
“Bukan pensiun, tapi di PHK. Kata direkturnya, kerjaan
gua nggak becus. Gua sering dapet dompet kosong, Cuma bikin rugi perusahaan.”
Jawabnya asal. Aku tertawa lagi.
Sanggar seniku akan tampil dalam perayaan pengangkatan
walikota baru. Nantinya kami akan menampilkan beberapa kesenian tradisional dan
modren. Dalam penampilan kali ini aku juga memberi kesempatan pada
siswa-siswiku di SMA yang memiliki bakat seni. Ada dua puluh orang siswaku yang
aku ikutsertakan dalam pertunjukan itu. Tentunya hal itu sangat menyita waktu
dan pikiranku. Dan kehadiran Candy bagiku sangat membantu.
“Saya rasa untuk latihan sudah cukup, tinggal pematangan
saja. Tapi yang harus lebih kita pikirkan sekarang adalah mengenai kostum,
properti dan tata panggung. Masalah properti bagaimana Ikhsan?” tanyaku pada
ketua tim teater, dua hari menjelang pertunjukan itu.
“Aman, Pak. Sudah 80 %.” Sahutnya. Ia juga merupakan
siswaku di SMA.
“Saya maunya sore ini properti sudah sip 100 %. Bisa?”
“Kami usahakan Pak.”
Aku mengalihkan pandangan ke sekitar. Lalu ku lirik jam
tanganku. Pukul 11 lewat seperampat. Hari itu adalah hari Minggu, persiapan
memang dilakukan dari pagi. Namun Candy belum juga menampakkan wajahnya di
hadapanku, di hadapan kami semua. Aku mencoba menghubunginya, namun panggilanku
tidak diangkat-angkat. Aku mulai resah. Aku sebenarnya khawatir dengan Candy,
takut terjadi ada apa-apa dengannya, meskipun aku yakin dia akan baik-baik saja
karena Candy adalah gadis yang kuat. Namun disisi lain hatiku, aku lebih
cenderung khawatir jika Candy menghilang lagi, dia pernah meninggalkanku tanpa kabar
dan hal itu benar-benar membuatku merasakan kehilangan yang teramat memilukan.
Aku tidak ingin hal itu terjadi untuk yang kedua kalinya.
Di tengah kegundahanku itu, Andi datang menghampiriku. Ia
tampak panik seolah baru mengetahui suatu kabar mengejutkan yang akan ia
sampaikan padaku. “Ka, lo udah dapat kabar dari Candy?” tanyanya.
“Dari pagi saya belum ketemu dia. Telfon saya juga nggak
diangkat.” Jawabku.
“Gua barusan dapat kabar dari Anton, dia tadi lewat di
depan rumahnya Candy, dan melihat kalau di rumah Candy itu ada orang yang
meninggal. Tapi Anton juga belum tau siapa orangnya.” Jelas Andi.
Aku sungguhan kaget mendengar berita itu, sekaligus
panik. Fikiranku langsung tertuju kepada ayah Candy yang pernah ia ceritakan
tengah sakit keras. Tanpa berfikir lebih lama lagi, aku langsung menuju rumah
Candy dengan menggunakan motor Andi, karena rumah Candy itu berada di gang yang
sangat sempit dan akan sulit jika dituju menggunakan mobil.
Aku terhenyak melihat bendera kuning yang berdiri di
depan rumah kayu itu. Orang-orang sudah banyak disana, menggunakan pakaian
serba hitam pertanda tengah berduka. Dari dalam rumah, terdengar bacaan surat
yasin yang menggema dihadapan sebuah raga yang telah ditinggalkan rohnya. Aku
melongok di depan pintu, dan kudapati Candy tengah bersimpuh di depan jasad
ayahnya dengan mata yang sembab dan airmata yang sudah mengering. Tatapannya
hampa berselimutkan duka. Tidak pernah kulihat ia sepilu itu. Tak sanggup juga
kuhampiri Candy kala itu. Aku hanya duduk di beranda, bergabung dengan pelayat
lainnya. Aku pun turut memandikan jenazah itu serta mensholatkannya dan
menggotong jenazahnya ke pemakaman. Ayah Candy meninggal dalam keadaan tubuh
yang sangat kurus. Aku masih ingat, dahulu ayah Candy sering datang ke sekolah
setiap kali aku dan Candy berbuat ulah. Ia sering melotot dan memarahiku karena
telah mengajak anaknya berbuat onar. Saat itu aku hanya diam, namun dibelakang
ayah Candy, aku sering meledek lelaki tua itu. Sering kuledek perutnya yang
buncit, dan kumisnya yang tebal. Dan sering kutirukan gaya berjalannya yang
lucu. Candy kadang juga tertawa saat aku meledek ayahnya, bahkan ikutan
meledek, karena saat itu Candy tidak pernah damai dengan ayahnya. Namun kini
aku menyesali perbuatanku itu, dan terlebih menyesal lagi karena aku tidak
sempat meminta maaf pada lelaki itu.
Mungkin karena rasa sesal itu jualah aku bersedia mengantarkan
laki-laki itu ke peristirahatan terakhirnya. Keluarga Candy tampak bertanya-tanya
dalam hati saat melihatku turut serta dalam proses pemakaman itu. Namun Candy
masih dengan tatapan hampa dan dukanya, ia seolah tak peduli lagi dengan
orang-orang disekitarnya, termasuk diriku yang saat itu lalu lalang di
hadapannya. Tak bisa kubayangkan betapa kesedihan Candy hari itu, namun bisa
kurasakan betapa kepiluannya. Tak ada sebaris dialog pun antara aku dan Candy
yang terjadi di hari itu, hingga aku meninggalkan kediamannya saat hari mulai
senja, tepatnya setelah jasad ayahnya dikebumikan.
Aku kembali ke kediaman Candy satu minggu setelah itu.
Pementasanku sudah selesai dan berjalan lancar meski terasa kurang sempurna
tanpa Candy. Malam itu tengah berlangsung acara pengajian dalam rangka
mengenang tujuh hari kepergian ayahnya Candy. Ibu Candy menyuguhkanku kopi
panas saat aku datang ke rumahnya. Saat itu acara pengajian sudah berakhir,
tinggal beberapa keluarga terdekat saja yang masih berdiam di kediaman Candy
dan sepertinya tidak lama lagi juga akan berpamitan pulang. Aku memperkenalkan
diri pada ibunya Candy, dan kuberitahu bahwasanya aku adalah temannya Candy
sekaligus rekan kerjanya.
“Semenjak ayahnya meninggal, Candy tidak pernah keluar
kamar. Ia terus merenung di kamarnya, menatap ke balik jendela, dan terkadang
ibu lihat dia menangis sendiri. Ibu sedih melihat keadaan Candy yang sekarang.”
Wanita berusia 50 tahun itu pun bercerita dengan mata berkaca-kaca.
“Dari kecil, Candy memang tidak pernah akur dengan
bapaknya. Candy memang anak yang bandel. Dulu saat sekolah, dia sering bermasalah
sehingga bapaknya sering dipanggil kepala sekolah berkali-kali. Dia memiliki
seorang teman yang dulu suka mengajaknya berbuat onar. Ibu juga lupa siapa nama
anak itu.” lanjut sang ibu. Aku nyaris tersedak, karena tidak lain dan tidak
bukan orang yang dimaksud ibu itu adalah aku.
“Candy selalu beranggapan bahwa ayahnya tidak
menyayanginya. Padahal ayahnya begitu menyayanginya. Candy adalah anak yang
kami harap-harapkan setelah lima tahun pernikahan kami.” Airmata merembes dari
sudut mata ibu begitu meneruskan ceritanya. Cepat-cepat ia menyeka airmatanya,
lalu berusaha tersenyum padaku. “Silakan diminum kopinya, Nak Azka.” Ia
mempersilahkanku.
Aku mengangguk lalu meneguk kopi hitam yang masih sedikit
panas itu.
“Sebenarnya Nak Azka ini siapa? Mengapa begitu baik pada
Candy? Ibu juga melihat, waktu bapak Candy meninggal, Nak Azka juga turut
mengangkat jenazahnya serta memakamkannya. Sejak kapan Nak Azka mengenal
Candy?”
Aku sungguh bingung menanggapi rentetan pertanyaan ibunya
Candy. Mendadak aku kehilangan kata-kata dan tidak tau pertanyaan yang mana
yang harus kujawab duluan. Akhirnya aku berujar, “Saya... saya ingin melamar
Candy, bu.”
Ibu tersentak mendengar kata-kataku itu. Ia tampaknya
tidak percaya bahwa aku akan berujar seperti itu. aku pun sebenarnya tidak
percaya akan berucap seperti itu. sama sekali tidak kurencanakan sebelumnya.
Kata-kata itu terlahir begitu saja.
“Melamar Candy?” ibu mengulangi pernyataanku lagi.
Seiring dengan itu Candy keluar dari kamarnya. Sepertinya ia mendengar
pembicaraanku dengan ibu. Tidak mungkin juga menutup telinga atas pembicaraan
yang berlangsung di rumah yang tidak terlalu besar itu.
Aku tersentak dengan kehadiran Candy. Begitupun dengan
ibu.
“Azka, gua minta lo keluar sekarang. Pulang!” ujarnya
dengan raut wajah yang sungguhan memerintah.
“Tapi kenapa, Can?” tanyaku bingung.
“Gua minta lo pulang. Sekarang.!” Tegasnya dengan nada
yang lebih tinggi seperti berteriak. Ibu yang duduk berhadap-hadapan denganku
pun bingung mengapa Candy bersikap seperti itu.
Aku berdiri. “Saya akan pulang. Tapi tolong beritahu
dulu, apa salah saya?” pintaku.
“Kalau lo nggak mau keluar, biar gua yang keluar.”
Tegasnya. Setelah itu ia berlari keluar dari rumah kayu itu.
Aku bergegas menyusulnya, tentunya setelah permisi
terlebih dahulu kepada ibu. Candy berlari menembus kegelapan malam. Melewati
gang-gang sempit untuk keluar dari daerah pemukimannya. Aku berusaha untuk
mengejar langkahnya, hingga di dekat sebuah jembatan ia berhenti dan berbalik
badan. Aku pun turut berhenti, kira-kira dua meter darinya.
“Apa maksud lo ngomong kayak gitu sama ibu gua?”
tanyanya, tetapi terdengar seperti memaki.
Aku gelagapan. Sungguh belum mempersiapkan jawaban.
“Jawab!” bentaknya.
Aku menatap wajahnya, memfokuskan pandangan pada bola
matanya yang kini menantang bola mataku. “Karena saya cinta kamu, Can. Nggak
kurang, Nggak lebih.” Aku sendiri tidak pernah membayangkan akan mengucapkan
kata-kata itu pada Candy, orang yang selama ini kusebut sebagai sahabat.
Candy bungkam sejenak, seperti terkesiap. Namun tidak
lama setelah itu, ia tersenyum getir, seperti menertawakan ucapanku atau justru
menertawakan dirinya sendiri, atau justru menertawakan hal lain. Entahlah, tak
bisa kupahami kala itu. “Gua emang bodoh, Ka. Goblok. Nilai-nilai gua selalu
jadi yang paling anjlok sepanjang sejarah gua sekolah. Tapi gua masih punya
otak buat mikir dan mengerti dengan semua ini.” nada suara itu mulai memelan.
“Gua tau, lo ngomong gitu, nggak lebih Cuma karena lo simpati kan sama gua? Dan
gua juga tau kalau hidup gua amat memprihatinkan. Gua akan menjadi orang yang
menyesal seumur hidup, karena sepanjang umur ayah gua, gua nggak pernah bisa
bikin dia bangga. Gua nggak berguna sebagai seorang anak dan sebagai seorang
manusia. Dan karena kita pernah jadi sohib yang klop banget, karena gua sahabat
elo, dan sebagai sahabat yang baik trus lo merasa bertanggung jawab atas
penderitaan gua. Begitu kan maksud lo?”
Aku tidak menduga Candy akan bicara seperti itu. Namun
dapat kupahami bahwa kondisinya benar-benar sensitif saat itu. Ia tidak dapat
berfikir jernih. Dan barangkali pernyataan yang kuungkapkan dengan ketulusan
itu justru terasa membuat ia tersinggung. Aku menghela nafas, berat. Menyadari
bahwa yang kulakukan tadi itu sungguhan tidak tepat. Atau justru sangat tepat?
Entahlah. Akhirnya aku hanya bisa berkata pada Candy, “Terserah kamu punya
anggapan apa. Itu hak kamu. Yang jelas saya sudah ngomong soal perasaan saya.
Dan itu saya utarakan dalam keadaan sadar dan tanpa niat main-main sedikit
pun.” Aku menghela nafas sekali lagi. “Udah malam, Can. Kembalilah ke rumahmu.
Saya juga akan pulang.”
Ia tak menjawab dan hanya terus melemparkan tatapan tajam
padaku. Tatapan yang tidak bisa kuartikan. Aku pun berbalik badan, kembali ke
kediamannya untuk mengambil kendaraanku sebelum akhirnya benar-benar pulang.
Setelah peristiwa tidak terduga malam itu, aku tidak
pernah lagi bertemu Candy. Ia tidak pernah datang ke sanggar. Jika dihubungi
Andi atau Anton, tidak pernah ia angkat. Aku memang tidak menghubunginya lagi,
karena kurasa Candy masih marah padaku dan tentunya ia tidak akan mengangkat
telfonku. Aku juga tidak mendatangi rumah Candy, karena begitu enggan setelah
apa yang terjadi di malam itu. Terkadang aku menyesal karena telah
mengungkapkan perasaanku ke Candy. Karena hal itu yang pada akhirnya membuat
kami renggang. Harusnya aku membiarkan saja hubungan kami berjalan dalam jalur
persahabatan. Hingga aku benar-benar menemukan waktu yang tepat untuk mengubah
hubungan itu. Namun, ya sudahlah, tak perlu juga untuk kusesali. Tidak akan
merubah apapun.
Sore itu aku masih berada di sekolah, padahal jadwal
mengajarku sudah berakhir semenjak siang harinya. Aku mendapat tugas melatih
sebuah grup musik yang akan tampil pada acara perpisahan siswa kelas 12 yang
akan berlangsung satu bulan lagi. Sekolah sudah bubar, yang tersisa Cuma aku
bersama siswa-siswa yang latihan untuk acara persiapan itu. Dari ruangan musik
aku melihat seseorang berkemaja merah kotak-kotak berdiri di sudut lapangan. Ia
mengenakan topi hitam dan rambutnya dikucir. Dengan begitu saja aku bisa
mengenali sosok itu. Ia adalah Candy.
Aku pun beralih ke luar ruangan, karena kuyakin
keberadaan Candy disitu pasti ada hubungannya denganku. Aku berdiri di
sebelahnya. Ia bergeser tiga langkah begitu aku datang. Aku memperhatikan saja,
dan ia tampak mengelak dari tatapanku. “Udah selesai ngajarnya?” ujarnya
kemudian.
“Kamu kesini untuk ketemu saya?” balasku dengan sebersit
rasa bahagia karena ia hadir lagi.
“Masa mau ketemu Pak Umar.” Balasnya ketus. Aku tertawa.
Pak Umar adalah kepala sekolah kami waktu SMA dulu. Aku dan Candy menjadi akrab
dengan Pak Umar karena sering dipanggil ke ruangannya. Mungkin kami adalah
siswa yang pernah melakukan dialog terbanyak dengan kepala sekolah.
“Saya senang kamu mau ketemu saya lagi.” Ia tersenyum.
Ia melirikku dengan ekor matanya, lalu cepat-cepat
membuang tatapannya lagi. “Dua hari yang lalu Kirana datang ke rumah gua.”
“Oh ya?” mataku berbinar-binar saat mendengar nama itu.
Aku pun telah rindu dengan sahabatku yang satu itu. Begitu mendengar nama
Kirana, tentunya aku juga teringat dengan Olive, Reyhan, dan Habil. Entah kapan
kami bisa berkumpul lagi bersama.
“Dia nyuruh gua buat nemuin lo.”
“Nemuin saya? Untuk?”
Candy tampak menelan ludah. Lalu melirikku lagi sejenak
dan membuang tatapannya lagi. “Soal omongan lo malam itu...”
Aku sedikit berdebar begitu Candy menyinggung kejadian
itu lagi. Perasaanku jadi tidak karuan.
“Emangnya lo serius dengan omongan lo itu?” Candy tampak
ragu-ragu meneruskan kata-katanya.
“Saya kan udah bilang, saya mengungkapkan itu dalam
keadaan sadar dan tanpa niat main-main.” Jawabku lugas.
“Sebenarnya asing bagi gua saat ada orang yang ngomong
gitu ke gua dengan..tulus. Apalagi orang itu elo. Tapi sebenarnya....,”
“Sebenarnya apa?”
“Saat gua menghilang dari kalian semua, gua justru merasa
kehilangan sendiri. Dan rasa kehilangan dan rindu yang gua rasa ke lo beda
dengan rasa rindu dan kehilangan yang gua rasa ke Reyhan, Habil, Kiran, dan
Olive. Saat itu sebenarnya gua udah tau, kalau gua...”
“Kalau kamu cinta saya?” Aku menyambar ucapannya. Hatiku
sudah tidak sabar mendengar pengakuannya itu.
Candy melotot dan menatapku lagi dengan teramat tajam.
Namun setelah itu ia mengangguk. Seketika ada sesuatu yang menarik sudut bibirku,
yang membuatku tak berhenti untuk tersenyum. untuk pertama kalinya aku merasa
kikuk dan salah tingkah di hadapan Candy. Sungguh tidak pernah kubayangkan hal
seperti itu akan terjadi.
Beberapa hari setelah hari itu, aku memperkenalkan Candy
ke keluargaku. Kusampaikan juga pada keluargaku tentang niatku untuk menikah
dengan Candy. Mungkin akan banyak yang bertanya, apa keluargaku akan menerima
Candy? Jika aku membawa Candy dengan penampilan seperti saat aku bertemu ia di
lapangan sekolah itu, tentu saja orangtuaku tidak akan setuju. Namun aku telah
mengatur strategi agar Candy bisa diterima di lingkungan keluargaku. Sebelum
bertemu dengan orangtuaku, Candy telah kuberitahu untuk merubah penampilannya,
dan merubah sikapnya. Bukannya aku tidak menerima Candy apa adanya, aku justru
jatuh cinta dengan apa adanya Candy. Akan tetapi, orangtua mana yang akan
menerima gadis yang berantakan sebagai menantunya?
Orangtuaku adalah orangtua yang berpikiran terbuka, yang
tidak suka memandang sesuatu dari satu sudut pandang saja. Orangtuaku sama
sekali tidak memiliki masalah dengan
keluarga Candy yang jauh berbeda dengan keluarga kami. Bagi mereka,
selama Candy berperilaku baik dan menyenangkan, itu tidak akan menjadi masalah.
Bahkan mamaku suka dengan Candy yang tidak cengeng dan lembek seperti cewek
kebanyakan. Aku sering tertawa sendiri saat mama mengajak Candy memasak. Dapat
dibayangkan betapa lucunya Candy yang harus kebingungan membedakan jahe dan
kunyit, atau lada dan merica.
Candy memang tidak pernah berubah. Ia akan tetap kukenali
sebagai perempuan yang kuat dan tegar. Namun Candy hari ini terasa lebih hidup
daripada Candy yang sebelumnya. Ia menjadi lebih akrab dengan keluarganya,
membuka diri kepada ibunya, dan bersedia menunjukkan rasa sayang kepada adik-adiknya.
Candy juga bersedia membantu ibunya di warung rumahnya daripada jadi preman di
jalanan. Dan kepadaku, Candy juga tetap bersikap sama. Ia tetap suka meledek
saat aku berseragam rapi. Ia tetap tidak segan memukul kepalaku atau menarik
telingaku. Ia tetap suka mengajakku berduet, mengiringi nyanyiannya dengan
gitar, dan seperti biasa arah nada suaranya selalu bertolak belakang dengan arah
nada gitarku. Namun kami sungguh menikmati itu, sama seperti kami yang akan
terus menikmati hari-hari ke depannya. Candy, tidak ku sangka aku akan jatuh
hati.
Saran sadari saya, pada pembukaan lebih diberi tekanan biar memberi ketertarikan dari pembaca. Dan untuk dialog lebih di susun rapi supaya jelas antara satu dengan berikutnya.
BalasHapusMakasi sarannya. Sangat membantu..
Hapus