Salam dar Kampus Biru
Salam
dari Kampus Biru
Oleh:
Vira Nilmania
Pertengahan tahun lalu, aku mengganti peranku, dari siswa
ke mahasiswa. Melalui jalur SNMPTN, aku berhasil menempatkan diriku sebagai
salah satu partikel bagian dari Univeristas Negeri Padang. Aku tergabung dalam
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, menempati satu pojok kecil lagi
yaitu Jurusan Kimia, tepatnya pada Kimia Non Kependidikan.
FMIPA bukanlah fakultas yang banyak diincar dan digemari.
Tak seperti fakultas ekonomi yang akan diminati oleh siapapun. Tak seperti
Fakultas Teknik yang dianggap sebagai fakultas yang menjanjikan. FMIPA justru
dianggap sebagai fakultas yang siap membunuh mahasiswanya dengan ilmu-ilmu
eksakta. Bagi sebagian besar orang, menjadi mahasiswa FMIPA mungkin dianggap
membosankan, tidak menarik, bikin sakit kepala karena selama kuliah akan terus
berurusan dengan teori-teori saintis dan rumus-rumus hitung yangbisa membuat
rambut rontok satu per satu. Tapi itu hanya akan menjadi anggapan orang-orang
yang tidak pernah menginjakkan kakinya di FMIPA.
Kampus Biruku terletak di pojok paling belakang
Universitas Negeri Padang. Ku sebut kampus biru, karena memang bangunannya yang
berwarna biru. Kampus Biruku tidak sama dengan fakultas-fakultas lain yang ada
di UNP. Kampus biruku memiliki keunikannya tersendiri. Untuk mencapai kampusku,
kamu harus menelusuri Universitas Negeri Padang secara keseluruhan. Kamu akan
terlebih dahulu di sapa bangunan-bangunan megah yang terletak di barisan
terdepan, seperti Mesjid Al-Azhar, Auditorium, dan Rektorat. Kamu juga bisa
melihat Fakultas Pariwisata dan Perhotelan yang merupakan gedung baru di
belakang auditorium. Kamu akan berjumpa dengan Fakultas Teknik, kamu juga bisa
melihat puncak bagunan Fakultas Bahasa dan Seni yang menjulang tinggi dibalik FT.
Di sisi kanan, kamu juga akan melihat gedung Fakultas Ilmu Pendidikan, Gedung
Pasca Sarjana, bayangan gedung Fakultas Ekonomi, mungkin kamu juga bisa melihat
Fakultas Ilmu Sosial dari jauh. Tidak hanya itu, kamu juga akan melewati
jembatan dengan sungai kecil yang mengalir di bawahnya. Sebagian mahasiswa
menyebutnya dengan Sungai Gangga, ada juga yang menyebutnya Kali Ciliwung, dan
mungkin masih ada sebutan-sebutan lain untuk sungai kecil itu. Aku sendiri
menyebutnya sebagai Sungai Gangga, begitupun dengan orang-orang di Fakultasku.
Entah siapa pelopor dari pemberian nama itu.
Setelah jembatan itu, kamu akan bertemu dengan
perempatan. Wilayah kiri adalah kawasan Fakultas Ilmu Keolahragaan dan sebelah
kanan adalah Kawasan Kampus Biruku. Sebelum memasuki kampusku, kamu akan
terlebih dahulu disapa oleh gedung perpustakaan yang menjulang tinggi. Setelah
itu kamu mungkin akan mengerutkan dahi saat melihat bangunan tua berlantai dua
yang dibagian depannya bertuliskan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
Telah kusebutkan sebelumnya, kampus biruku amat sederhana, tak seperti
gedung-gedung lain di UNP yang menjulang tinggi. Kampus biruku memiliki banyak
gedung, yaitu gedung dekanat, gedung perkuliahan, gedung IPA terpadu, gedung
laboratorium Fisika, gedung laboratorium Biologi, Laboratorium Kimia, dan kini
ditambah dengan gedung aula FMIPA di sebelah dekanat. Selain itu ada sederet
bangunan di bagian belakang gedung perkuliahan, yaitu gedung kesekretariatan
unit kegiatan mahasiswa FMIPA. Meski bangunannya sederhana, tapi lihatlah,
hanya di Kampus Biruku yang masih terlihat asri disaat hawa gersang menyeruak
di setiap sudut Universitas Negeri Padang. Masih banyak pohon-bohon yang
berdiri di sekitar kampusku. Di depan gedung perkuliahan ada juga tumbuh pohon-pohon
besar yang di kelilingi tempat duduk di bawahnya. Kawasan itu kami sebut
sebagai DPR (Dibawah Pohon Rindang).
Kampus biruku juga identik dengan mahasiswa-mahasiswanya
yang religius. Disini, kamu akan banyak menemukan mahasiswi-mahasiswi bergamis
dan berjilbab dalam. Di Kampus Biruku juga ada peraturan perempuan harus
memakai rok. Akan sangat jarang sekali kamu mendapati perempuan bercelana jeans
di kampusku itu. Tak hanya mahasiswi, mahasiswanya pun dikenakan peraturan
tersendiri. Akan sangat jarang sekali kamu mendapati laki-laki berambut
gondrong di kampusku itu. mungkin yang akan kamu temukan adalah orang-orang
berkaca mata.
Hei, jangan beranggapan dulu bahwa manusia-manusia di
kampusku itu kaku dan tidak menarik. Di kampusku, organisasi kemahasiswaannya
berjalan aktif. Setiap jurusan memiliki Himpunan Mahasiswa (HiMa) yang memiliki
program kerja yang beragam. Apalagi bagi mahasiswa tahun satu, dijamin akan
kenyang dengan serangkaian kegiatan yang disuguhkan. Dimulai dengan kegiatan
PKKMB tingkat Fakultas. Itu sangat menarik sekali. Karena pada kegiatan
PKKMB-lah kita bisa berkenalan dengan lingkungan baru kita, yakninya kampus
kita sendiri. Kamu akan terkagum-kagum dan takjub saat mengetahui serangkaian
prestasi yang pernah di raih Kampus Biruku. Bahkan Kampus Biruku dijuluki
sebagai ‘Bungo Galeh UNP’. Dan merupakan Fakultas terbaik di UNP.
Setelah kegiatan PKKMB, mahasiswa tahun satu akan diberi
suguhan baru berupa kegiatan KRIDA. Aku tau, seluruh Fakultas mengadakan
kegiatan itu. Tapi kamu harus tau, di Fakultasku acara Krida dimulai terlebih
dahulu dan yang paling terakhir mengakhirinya. Acara krida ditutup dengan acara
KBM (Kemah Bakti Mahasiswa). Tahukah kamu, KBM di FMIPA juga berbeda dengan
suasana KBM di Fakultas lain. Kegiatan yang satu itu seolah menjadi kegiatan
yang amat penting, tidak hanya bagi mahasiswa tahun satu, namun juga bagi
mahasiswa-mahasiswa senior, alumni, bahkan para dosen. Lomba Yel-yel dan Parodi
yang diadakan di acara KBM tidak hanya sebatas acara hura-hura, melainkan suatu
kegiatan yang mempertaruhkan nama baik jurusan masing-masing. Kamu mungkin akan
geleng-geleng saat melihat atau mengetahui mahasiswa-mahasiswa FMIPA yang
latihan Yel-yel dan parodi sampai malam. Namun jika kamu jadi kami, kamu juga
akan melakukan hal yang terlihat berlebihan itu, karena ini nggak sekedar
hura-hura, melainkan menyangkut nama baik jurusan. Dan kamu juga harus tau,
tiap jurusan di Kampus Biruku selalu bersaing untuk menunjukkan keunggulan
jurusan masing-masing. Tak berakhir di acara KBM, kegiatan pun akan berlanjut
ke FMIPA FAIR, ajang bagi tiap-tiap jurusan untuk menunjukkan keunggulan,
tentunya dalam wadah yang positif. Jangan kamu beranggapan kami hanya
mengadakan kompetisi sejenis olimpiade atau cerdas cermat, kami juga mengadakan
kompetisi seni dan olahraga. Dan ku yakin kamu akan terheran-heran sendiri saat
mahasiswa-mahasiswa itu bisa menunjukkan jiwa seninya, seperti menari,
berpuisi, bermusik, berteater dan lainnya. Kamu juga akan takjub sendiri saat
menyaksikan kami, orang-orang yang selalu berurusan dengan buku dan ilmu hitung
ini, juga bisa bertanding secara fisik dalam kompetisi keolahragaan. Piala
bergilir FMIPA FAIR selalu diperebutkan setiap tahunnya.
Sudah kukatakan sebelumnya, bahwa Kampus Biruku itu
berbeda. Termasuk orang-orang yang bernaung di bawahnya dan sederet
aktivitasnya. Jika kamu menjadi bagian dari Kampus Biruku, kamu akan akrab
dengan yang namanya LAPORAN. Kamu akan akrab dengan kertas HVS dan terlatih
menulis pakai tangan ditengah berkembangnya teknologi modren. Jika kamu menjadi
bagian dari Kampus Biruku, kamu akan mengerti bagaimana kami menghadapi materi
perkuliahan setiap harinya. Jangan kamu coba-coba masuk kelas tanpa sarapan
pagi, karena mengikuti perkuliahan di kampusku tanpa cadangan energi hanya akan
membuatmu terbuai-buai mimpi di kursi belakang. Jika kamu menjadi bagian dari
Kampus Biruku, kuyakin kamu akan merasakan seperti apa yang aku rasakan. Kamu
akan mengerutkan dahi saat mengikuti diskusi berkenaan sosial politik dan
mengomel-ngomel dalam hati dengan anggapan pembahasan itu tidak berarti. Hey,
jangan tersinggung dengan omonganku. Maklumi saja, kami terbiasa dengan
teori-teori yang pasti, yang bukan opini. Tentunya pembicaraan tak berujung
akan membuat kami terasa mau mati sendiri. Satu lagi, kami sangat bersahabat
dengan sesuatu bernama praktikum, seandainya saja kami lupa bahwa setelah itu
kami akan bergadang untuk menyelesaikan lembaran laporan.
Ada yang mengatakan bahwa orang-orang eksakta itu
kesulitan dalam berbicara. Persepsi itu tak bisa kubantah, karena memang banyak
juga kutemukan faktanya. Namun tidak semuanya. Orang-orang eksakta memandang
permasalahan dalam sudut pandang yang berbeda. Kamu pasti tau kan, segala
sesuatu yang bergelayut di pemikiran orang eksakta itu berlandaskan dari pertanyaan
apa, mengapa, dan bagaimana. Diskusi dengan orang-orang di Kampus Biruku akan
terasa membosankan bagi kamu yang suka diskusi tentang artis pendatang baru
yang lagi heboh di infotaiment. Jangan harap kamu akan mendapat suguhan
pembahasan mengenai mengapa Soeharto turun dari jabatannya. Yang ada kamu akan
diajak berdiskusi mengenai pencemaran udara dan penanggulangannya dengan
bahasan serba ilmiah yang tidak akan bisa kamu selesaikan pada detik itu juga.
Dan kamu akan diajak berkeliling melihat dunia dalam sudut pandang mikroskopis,
namun bukan khayal.
Mendapatkan nilai di Kampus Biruku tidaklah mudah. Kamu
harus menyelesaikan dulu soal-soal penuh hitungan atau teori-teori yang tak
hanya cukup dengan metode hafalan. Di Kampus biruku, kuliah itu memang butuh
perjuangan. Bayangkanlah bagaimana kami memfoto kopi berbagai contoh soal
menjelang ujian, lalu sebisa mungkin kami usahakan untuk mencari jawabannya,
kemudian kami habiskan waktu berjam-jam untuk membahasnya, namun saat ujian
berlangsung kepala kami tetap terasa berdenyut-denyut saat melihat soalnya.
Ha-ha-ha.
Kamu bingung mengapa aku tertawa?
Bagiku hal itu menggelikan, terasa lucu saja saat kucoba
untuk mengenangnya. Sejatinya perjuangan itu indah, kalaupun gagal, kamu tetap
bisa untuk menertawakannya.
Kampus Biruku memberi salam pada siapapun kamu yang
tengah membaca ini. Kamu harus tau, Kampus Biruku menantimu.
Komentar
Posting Komentar